• Pemberdayaan Kelompok Usaha

    UMKM

    Pemberdayaan Kelompok Usaha

    Inkubasi hilirisasi pangan lokal, akselerasi branding digital, dan pembenahan administrasi finansial.

    Memetakan implementasi taktis program IbM perguruan tinggi yang sukses mentransformasi industri kreatif kuliner.

    Read More
  • Puisi Menatap Jejak Waktu

    Sang Kala

    Puisi Menatap Jejak Waktu

    Perenungan mendalam esensi waktu, riuh realitas, ziarah batin.

    Memeluk kerapuhan hidup, menyajikan kritik sosial fenomena zaman, serta merajut simfoni rasa kerinduan lewat diksi membumi.

    Read More
  • Sisi Manusiawi di Balik Sosok Guru

    Pendidikan

    Sisi Manusiawi di Balik Sosok Guru

    Kisah reflektif tentang suka duka profesi guru modern.

    Membongkar formalitas kelas dengan menyuguhkan gerutu, pengorbanan, dan pergulatan batin pendidik sebagai manusia biasa secara jujur.

    Read More
  • Puisi Puncak Kenikmatan

    Kenikmatan

    Puisi Puncak Kenikmatan

    Refleksi teologis, pedagogi kasih, dan katarsis jiwa kaum pendidik.

    Empat pengajar Nusantara merajut keheningan spiritual semesta, filsafat mengajar humanis di kelas, serta pertanyaan eksistensial batin yang mendalam.

    Read More

Tiang Gantungan

Tiang Gantungan, Kumpulan Puisi

Spesifikasi

Kode: 120067
Judul: Tiang Gantungan, Kumpulan Puisi
Penulis: Agus Supriyanto
Editor: Elisabet Sri Hartati
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-634-7774-05-7
eISBN: 978-634-7774-07-1
ISBN PDF: 978-634-7774-06-4
Tebal: 108 (x+98) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp55.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!

Deskripsi

Tiang Gantungan adalah kumpulan 69 puisi reflektif yang lahir dari pergulatan panjang dalam memandang manusia, kehidupan, kekuasaan, iman, pendidikan, kematian, dan aneka dinamika sosial yang mengitarinya. Melalui bahasa yang sederhana, lugas, sekaligus sarat permenungan, Agus Supriyanto mengajak pembaca memasuki ruang-ruang sunyi tempat pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hidup terus bergema.

Puisi-puisi dalam buku ini tidak menawarkan jawaban-jawaban pasti. Sebaliknya, setiap sajak menjadi undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan, lalu memandang kembali diri sendiri, sesama, dan dunia dengan mata yang lebih jernih. Pertanyaan demi pertanyaan hadir bukan untuk membingungkan, melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu dapat dipahami secara hitam putih.

Di dalamnya, pembaca akan menjumpai refleksi mengenai pendidikan, kekuasaan, korupsi, uang, bahasa, kemiskinan, solidaritas, pengabdian, konsistensi, kepercayaan, kemanusiaan, kematian, hingga relasi manusia dengan Tuhan. Semua tema tersebut dirangkai dalam bentuk puisi pendek yang padat, kontemplatif, dan sering kali dibangun melalui paradoks, ironi, permainan makna, serta pertanyaan-pertanyaan filosofis yang menggugah.

Judul Tiang Gantungan sendiri menghadirkan metafora yang kuat. Tiang gantungan bukan semata lambang hukuman atau kematian, melainkan simbol ruang penghakiman, tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan pilihan-pilihannya, dengan nuraninya, dan pada akhirnya dengan Yang Mahatinggi. Di hadapan "tiang gantungan" itulah topeng-topeng kehidupan kehilangan daya sembunyinya. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala kejujuran, kelemahan, ambisi, kasih, dan harapannya.

Dalam kumpulan ini, Agus Supriyanto tidak menempatkan dirinya sebagai hakim yang mengadili dunia. Ia lebih memilih menjadi seorang peziarah yang berjalan bersama pembacanya, menyaksikan berbagai ironi zaman: ketika pengabdian berubah menjadi bisnis, kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, pendidikan kehilangan arah, uang menjadi tuan, bahasa kehilangan makna, dan manusia perlahan terasing dari dirinya sendiri. Namun, di tengah segala kegelisahan itu, puisi-puisi ini tetap memelihara secercah harapan bahwa kebaikan, kasih, solidaritas, dan kebenaran tidak pernah benar-benar kehilangan jalannya.

Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan refleksi filosofis dengan pengalaman hidup sehari-hari. Pembaca tidak diajak berhadapan dengan konsep-konsep yang rumit, melainkan dengan kenyataan yang akrab: keluarga, pekerjaan, masyarakat, lembaga, agama, politik, bahkan media sosial. Dari pengalaman-pengalaman itulah lahir pertanyaan-pertanyaan yang menuntun pembaca masuk ke dalam perenungan yang lebih dalam mengenai makna menjadi manusia.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ketika ruang refleksi semakin sempit dan kata-kata semakin mudah kehilangan makna, Tiang Gantungan hadir sebagai ruang jeda. Buku ini mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang berpikir, bekerja, dan mengejar keberhasilan, tetapi juga makhluk yang perlu berhenti, bertanya, merenung, dan mendengarkan suara hati.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang mencintai sastra reflektif, filsafat kehidupan, spiritualitas, pendidikan, maupun kritik sosial. Lebih daripada sekadar kumpulan puisi, Tiang Gantungan adalah undangan untuk bercermin. Sebab, pada akhirnya, setiap puisi mungkin sedang berbicara tentang orang lain, tetapi diam-diam sedang memanggil setiap pembacanya untuk bertanya: di manakah aku berdiri, ketika kehidupan menempatkanku di hadapan tiang gantungan itu sendiri?

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... viii
  • 1. Tiang Gantungan .... 1
  • 2. Apa itu Kebenaran? .... 2
  • 3. Manipulasi vs. Kekuasaan .... 3
  • 4. Paradoks .... 4
  • 5. Kebodohan .... 6
  • 6. Timpang .... 8
  • 7. Ke Mana Kumenuju .... 10
  • 8. Manusia .... 12
  • 9. Menemukan jalan .... 13
  • 10. Pengalaman .... 14
  • 11. Selamat Jalan .... 16
  • 12. Kambing Hitam .... 17
  • 13. Siapakah engkau? .... 18
  • 14. Tuanku Bernama Uang .... 20
  • 15. Kamuflase Nafsu .... 21
  • 16. Iring-iringan .... 22
  • 17. Pandangan Itu .... 23
  • 18. Tulis .... 24
  • 19. Tikus-Tikus Got .... 25
  • 20. Lalu Apa? .... 26
  • 21. Konsistensi vs. Inkonsistensi .... 27
  • 22. Nyanyian Jiwa yang Merana .... 28
  • 23. Yang Merdeka yang Terpenjara .... 29
  • 24. Bebal dan Tak Dipercaya .... 30
  • 25. Selayang Pandang .... 31
  • 26. Tubuh Ini .... 32
  • 27. Tubuh yang Terbaring Itu .... 33
  • 28. Mata Digital .... 34
  • 29. Menerima .... 35
  • 30. Ambisi .... 36
  • 31. I and Thou .... 37
  • 32. Si Tua Itu .... 38
  • 33. Saat Terbaik, Saat Melepas .... 40
  • 34. Kehendak-Kulah yang Terjadi .... 41
  • 35. Pilihan Final .... 42
  • 36. Para Ningrat .... 44
  • 37. Tamak .... 45
  • 38. Resi-Resian .... 46
  • 39. Bumi Merana .... 47
  • 40. Incaran Ketiadaan .... 48
  • 41. Menuju Lembah .... 49
  • 42. Para Pengabdi Uang .... 50
  • 43. OMDO .... 52
  • 44. Kasih .... 53
  • 45. Solidaritas Pewartaan .... 54
  • 46. Kepercayaan dan Tagihan .... 56
  • 47. Miskin dalam Kelimpahan .... 58
  • 48. Terang dan Gelap .... 60
  • 49. Muslihat .... 61
  • 50. Niat .... 62
  • 51. Para Pembisik .... 63
  • 52. Warung-Warung itu .... 64
  • 53. Hati-Hati .... 66
  • 54. Kekuatan Diri .... 68
  • 55. Pencuri Waktu .... 69
  • 56. Kebaikan .... 70
  • 57. Ambisi Imortal .... 72
  • 58. Tukang Periuk .... 74
  • 59. Para Pemeran .... 76
  • 60. Didikan dan Teguran .... 77
  • 61. Jejak Langkah .... 78
  • 62. Ke Manakah Engkau Pergi .... 80
  • 63. Time Line .... 81
  • 64. Hoegeng Sang Mitos .... 82
  • 65. Cermin .... 84
  • 66. Mengenang Jejak Langkah Kemanusiaan Agung .... 86
  • 67. Hidup Adalah Permainan (Vita Ludus Est) .... 90
  • 68. Darurat .... 92
  • 69. Manusia Bukan Sekadar Guna .... 94
  • Tentang Penulis .... 97

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!