• Senja di Bukit Cinta

    Senja

    Senja di Bukit Cinta

    Elegi lara, refleksi bencana nasional, dan geguritan tradisi Jawa.

    Merajut katarsis emosional atas duka kehidupan, kepasrahan batin, hingga pelestarian sastra kultural yang membumi.

    Read More
  • Peningkatan Kompetensi Guru

    Manajerial

    Peningkatan Kompetensi Guru

    Formula tutor sebaya, strategi psikologis PMA, panduan taktis diseminasi karya ilmiah.

    Meramu cetak biru manajerial kepala sekolah untuk mengikis hambatan menulis lewat ekosistem pembimbingan egaliter yang berbasis data empiris.

    Read More
  • Dual Mission Credit Union

    Ekonomi

    Dual Mission Credit Union

    Keseimbangan profitabilitas finansial, inkubasi bisnis akar rumput, dan literasi keuangan.

    membedah keberhasilan CU dalam mensinergikan tata kelola bisnis yang tepercaya dengan misi pemberdayaan sosial ekonomi komunitas.

    Read More
  • Matahari di Ujung Jalan

    Cerpen

    Matahari di Ujung Jalan

    Potret humanis masyarakat marginal, resolusi konflik domestik, manifestasi fiksi edukatif.

    11 cerita pendek realis menangkap ketangguhan mental kaum akar rumput serta elegi ruang domestik lewat tutur bahasa yang ringan dan sarat empati.

    Read More

Batu-Batu

Batu-Batu: Kumpulan Puisi

Spesifikasi

Kode: 120055
Judul: Batu-Batu: Kumpulan Puisi
Penulis: Agus Supriyanto
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-623-7421-46-7
Tebal: 78 (viii+70) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!

Deskripsi

Batu-Batu – Mengetuk Keheningan dan Makna di Tengah Badai Ketidakpastian

Buku "Batu-Batu: Kumpulan Puisi" merupakan sebuah antologi puitis setebal 78 halaman yang lahir dari ruang kontemplasi mendalam seorang Agus Supriyanto. Memosisikan dirinya secara jujur dan rendah hati sebagai seorang penikmat seni, penulis memanfaatkan media kata-kata sebagai saluran katarsis yang murni. Ditulis di tengah situasi pandemi yang penuh gejolak, buku ini menjelma menjadi sebuah catatan harian emosional dan intelektual untuk melawan alienasi—sebuah kondisi di mana manusia modern perlahan-lahan mulai terasing dari alam, sesama, bahkan dari hakikat hidupnya sendiri.

Eksplorasi Gugatan Sosial, Kesunyian, dan Harmoni Kehidupan:

Menulis sebagai Jangkar Kewarasan:
Bagi Agus Supriyanto, menulis bukan sekadar hobi lama yang dirawat agar tidak hilang, melainkan sebuah metode untuk menjaga keseimbangan jiwa. Ketika dunia luar dipenuhi oleh sekat pembatas dan protokol yang kaku, lembaran-lembaran dalam buku ini menjadi ruang merdeka yang tanpa batas. Puisi seperti "Dalam Bayang Ketidakpastian" dan "Bias Dunia Maya" merekam dengan sangat tajam bagaimana kecemasan global dan disrupsi digital menguji ketahanan mental manusia, sekaligus menantang kita untuk tetap teguh berdiri layaknya batu di tengah hantaman ombak.

Gugatan Kritis atas Realitas dan Ego Manusia:
Antologi ini menampilkan daya kritis penulis yang cukup berani dalam menyoroti ketimpangan sosial dan perilaku manusia. Melalui judul-judul yang lugas seperti "Mengapa? Sebuah Gugatan", "Homo Faber", "Pongah", serta "Orang-Orang Terbuang", Agus melontarkan refleksi mendalam tentang keserakahan, kepalsuan, dan hilangnya empati. Ia mengajak pembaca melihat realitas secara sportif: bahwa di balik kemajuan zaman, ada sisi kemanusiaan yang sering kali terabaikan dan butuh disembuhkan lewat sikap tahu diri serta kerendahan hati.

Kembali ke Akar: Alam dan Kearifan Lokal:
Daya tarik estetis dari buku ini juga terletak pada kepekaan penulis terhadap alam dan tradisi. Melalui puisi seperti "Bersahabat dengan Alam" dan "Pranata Mangsa" (sistem penanggalan pertanian tradisional Jawa), penulis mengingatkan kembali pentingnya hidup selaras dengan semesta. Kesunyian dan kegelapan malam tidak dipandang sebagai hal yang mencekam, melainkan diolah secara cerdas dalam "Energi Keheningan dalam Kegelapan" sebagai ruang sakral untuk menemukan kembali integritas diri dan esensi "Ke-Saling-an" (keterhubungan) antarmakhluk hidup.

Kesimpulan: Menemukan Kembali Serpihan Diri yang Hilang
Puncak dari antologi "Batu-Batu" adalah sebuah undangan hangat bagi para pembaca untuk sejenak melambat, berhenti dari kebisingan dunia, dan berani menatap ke dalam diri sendiri. Agus Supriyanto berhasil membuktikan bahwa keindahan puisi tidak harus selalu menggunakan diksi yang rumit dan melangit, melainkan bisa lahir dari kejujuran dalam memotret hal-hal sederhana di sekitar kita.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan, kontemplatif, sekaligus ringan untuk dinikmati di waktu senggang. Kumpulan puisi ini sangat cocok bagi siapa saja yang sedang mencari makna positif di tengah dunia yang terasa kian asing, memberikan kita secercah harapan bahwa di dalam keheningan yang paling dalam sekalipun, selalu ada ruang untuk tumbuh bersama.

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Batu-Batu .... 1
  • Jadwal .... 2
  • Keanekaragaman Vs Keseragaman .... 4
  • Dialog .... 6
  • Tinja .... 8
  • Pengampunan dan Menjadi Berintegritas .... 10
  • Dari Ritual Menuju Sakral .... 12
  • Energi Keheningan dalam Kegelapan .... 14
  • Balada Petani .... 16
  • Penyangkalan Saksi .... 19
  • Ke-Saling-an .... 20
  • Bersahabat dengan Alam .... 22
  • Pranata Mangsa .... 25
  • Perjumpaan .... 28
  • Wajah Itu .... 30
  • Janji Setia .... 32
  • Kau .... 34
  • Ku Hadir Untuk Dilupakan .... 36
  • Figur .... 39
  • Mengapa? Sebuah Gugatan .... 40
  • Edukasi di Masa Kinanthi .... 42
  • Homo Faber .... 44
  • Kebebasan .... 46
  • Orang Dalam dan Orang Luar .... 48
  • Selamat Jalan .... 50
  • Rendah Hati .... 52
  • Lugas .... 54
  • Keramahanmu, Magnetmu .... 55
  • Hadir .... 56
  • Perubahan .... 57
  • Orang-Orang Terbuang .... 58
  • Pongah .... 60
  • Bias Dunia Maya .... 61
  • Tumbuh Bersama .... 62
  • Abai .... 64
  • Dalam Bayang Ketidakpastian .... 66
  • Tentang Penulis .... 68

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!