• Rahim

    Puisi Pulang ke Rahim Ibu

    Ziarah batin intim kaum pendidik merenungkan esensi kedamaian rumah.

    Sembilan penyair merajut metafora kasih ibu, falsafah hidup bersahaja, serta keprihatinan sosial generasi lewat untaian kata yang menyentuh.

    Read More
  • Katarsis

    Antologi Puisi Terpaan

    Eksperimen struktur puisi cinquain dan potret ketangguhan menghadapi krisis.

    Ditulis oleh 11 pendidik, merajut keunikan puisi lima baris Barat, satire sosial urban, hingga empati kaum marginal.

    Read More
  • Domestika

    Membangun Spiritualitas Keluarga

    Ecclesia Domestica, teologi sakramen perkawinan, dan resiliensi rohani.

    Membedah peta jalan taktis pemulihan keluarga Katolik menjadi benteng oase iman yang aktif menginjili di tengah disrupsi zaman modern.

    Read More
  • Cerpen

    Antologi Cerpen Warisan Azan Subuh

    Fragmen kehidupan, dilema rasa, dan potret sosial dunia pendidikan.

    Tujuh penulis perempuan merangkum nilai spiritualitas keluarga, rumitnya hubungan emosional, hingga empati humaniora realitas murid sekolah.

    Read More

Lingsir Wengi

Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36

Spesifikasi

Kode: 120052
Judul: Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36
Penulis: Agus Supriyanto, Ayub Sigit Sapto Budoyo, Gusnawati, Hasmiaty Muh. Amir, Lusia Yuli Hastiti, Sri Edy Hernani
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-623-7421-42-9
eISBN: -
ISBN PDF: -
Tebal: 84 (viii+75) halaman
Harga: Rp40.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Deskripsi

Lingsir Wengi – Merawat Asa dan Sunyi di Ambang Malam

Buku "Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36" merupakan sebuah antologi sastra setebal 84 halaman yang lahir dari rahim kreativitas Komunitas Guru Menulis. Sebagai volume ke-36 dari karya kolaboratif para anggotanya, buku ini merangkum 54 puisi pilihan hasil buah pikiran enam penulis lintas daerah: Agus Supriyanto, Ayub Sigit Sapto Budoyo, Gusnawati, Hasmiaty Muh. Amir, Lusia Yuli Hastiti, dan Sri Edy Hernani. Menggunakan tajuk yang identik dengan suasana larut malam dalam tradisi Jawa, antologi ini menjelma sebagai ruang kontemplasi yang intim untuk mengeja kesunyian, dinamika rasa, serta ziarah batin manusia saat dunia mulai terlelap.

Mosaik Pergumulan Jiwa, Kritik Simbolis, dan Penerimaan Rasa:

1. Turbulensi Kehidupan dan Kepasrahan Spiritual:
Lembaran awal antologi ini dibuka dengan untaian refleksi emosional yang mendalam oleh Sri Edy Hernani. Lewat puisi-puisi seperti "Turbulensi Hidup" dan "Akhir Sebuah Perjuangan", pembaca diajak menyaksikan ketangguhan manusia saat diombang-ambingkan oleh ujian harian. Sudut pandang yang dihadirkan terasa sangat sportif; penulis tidak berpura-pura kuat, melainkan memeluk kerapuhan tersebut sebagai proses penataan batin, sebelum akhirnya menemukan pelukan damai dalam untaian "Doa".

2. Kritik Sosial-Kultural lewat Personifikasi Alam:
Agus Supriyanto kembali membawa radar kritisnya yang tajam ke dalam antologi ini, tetapi disajikan dengan gaya yang lebih simbolis. Melalui judul-judul unik seperti "Anjing Buduk", "Kepala Anjing", hingga konsep kesederhanaan radikal dalam "Ugahari", penulis melontarkan kegelisahan moralnya terhadap perilaku manusia modern yang kian pongah. Ia menawarkan literasi sebagai obat penawar, sebuah ajakan yang digaungkan secara lugas dalam bait "Mari Membaca".

3. Melodi Sunyi, Romansa, dan Sketsa Malam Jawa:
Sesuai dengan judul buku, Ayub Sigit Sapto Budoyo dan Lusia Yuli Hastiti memberikan napas kultural dan estetis yang sangat kental. Lewat puisi utama "Lingsir Wengi" dan "Ngudarasa" (mencurahkan isi hati), keheningan malam diubah menjadi sahabat hangat tempat manusia berdialog dengan jiwanya sendiri. Nada-nada romansa, luka yang mulai membaik, hingga penerimaan takdir mengalir lewat bait-bait puitis yang lincah, termasuk sentuhan personal dalam "Sayangnya, Aku Bukan Sindhunata". Keindahan estetis ini disempurnakan oleh kontribusi Gusnawati dan Hasmiaty Muh. Amir yang melukiskan keindahan sekaligus kepedihan melepas kenangan di bawah "Jingga di Langit Senja".

Kesimpulan: Ruang Jedah yang Menenangkan di Sela Rutinitas
Pada akhirnya, antologi "Lingsir Wengi" berhasil membuktikan bahwa menulis puisi adalah cara paling murni bagi para pendidik untuk menjaga kepekaan rasa di tengah kesibukan mengajar. Rangkaian kata yang terjalin dari enam isi kepala berbeda ini menjadi bukti bahwa sebuah karya sastra tidak selalu membutuhkan bahasa langit yang rumit untuk bisa menyentuh relung hati terdalam pembacanya.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat ringan, mengalir, sekaligus memberikan kehangatan kontemplatif. Kumpulan puisi ini sangat cocok dinikmati saat malam mulai merayap sunyi bersama secangkir teh hangat, menemani siapa saja yang ingin sejenak rehat dari kepenatan dunia luar dan kembali pulang memeluk diri sendiri.

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Sri Edy Hernani .... 1
  • Kamu .... 2
  • Doa .... 4
  • Rasa .... 5
  • Walau Hanya Mimpi .... 6
  • Turbulensi Hidup .... 7
  • Akhir Sebuah Perjuangan .... 8
  • Seuntai Kata Untuk Ibu .... 10
  • Sakit .... 11
  • Cintailah Cinta .... 12
  • Luruh .... 13
  • Agus Supriyanto .... 14
  • Tamu Agung .... 15
  • Anjing Buduk .... 17
  • Kepala Anjing .... 19
  • Ugahari .... 20
  • Sederhana .... 21
  • Membaca .... 23
  • Mari Membaca .... 25
  • Ingatan Tragedi .... 27
  • Bulan Maria .... 29
  • Bahasa Persatuan .... 31
  • Bahasa .... 33
  • Ayub Sigit Sapto Budoyo .... 34
  • Menghentikan Malam .... 35
  • Ada Tuhan .... 36
  • Ngudarasa .... 37
  • Lingsir Wengi .... 38
  • Mendaur Cinta .... 39
  • Bukan Ilusi .... 40
  • Instrumentalia .... 41
  • Jaket Almamater .... 42
  • Cinta .... 43
  • Bunga dan Kupu .... 44
  • Anak Panah II .... 45
  • Lusia Yuli Hastiti .... 46
  • Itu Kan juga Takdir .... 47
  • Seandainya Cuma Mimpi .... 48
  • Bacalah Ma(n)t(r)aku Untuk yang Terakhir Kalinya .... 49
  • Sayangnya, Aku Bukan Sindhunata .... 50
  • Catatan Hari .... 51
  • Buah Pikiran .... 52
  • Bulan .... 53
  • Cita-Cita .... 54
  • Kesempatan Terakhir .... 55
  • Lupa Bersajak .... 56
  • Nelangsa .... 57
  • Peyeumpuan .... 59
  • Renungan Tiga Puluh Satu .... 60
  • Tetap Puisi .... 61
  • Gusnawati .... 62
  • Andai .... 63
  • Jalan Itu .... 64
  • Tulus .... 65
  • Masih Menunggumu .... 66
  • Kenangan .... 67
  • Hasmiaty Muh. Amir .... 68
  • Pelangi di Ujung Senja .... 69
  • Menghapus Bayangmu .... 70
  • Jingga di Langit Senja .... 71

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !