• Terbaru

    3 Alinea Kisah

    Kisah nyata mengenai cinta, ayah, ibu, anak, ulang tahun dalam 3 alinea.

    Sebagian besar mungkin sekilas tampak sederhana dan biasa saja, tetapi menjadi begitu bermakna dan kaya setelah terolah oleh pergulatan hidup dan refleksi bersama waktu.

    Read More
  • Novel

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa karya R.N.D Krisnawati

    Pengajeng-ajeng gesang tentrem ing bebrayan, kanyata mas Sutrisno nyimpen sejarahing gesang ingkang mboten ngremenaken. Getun lan keduwung damel peperangan ing batinipun.

    Read More
  • Puisi

    Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi

    Kumpulan Puisi karya kolaborasi seorang petani dan karyawan koperasi.

    Petani dan karyawan koperasi bergelut dengan pekerjaan harian riil.

    Read More
  • Teologi

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender dari Perspektif Gereja

    Laki-laki dan perempuan diciptakan secitra dengan Allah dan memiliki martabat yang sama.

    Read More

Lingsir Wengi

Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36

Spesifikasi

Kode:120052
Judul:Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36
Penulis:Agus Supriyanto, Ayub Sigit Sapto Budoyo, Gusnawati, Hasmiaty Muh. Amir, Lusia Yuli Hastiti, Sri Edy Hernani
Tahun Terbit:2021
ISBN:978-623-7421-42-9
eISBN:-
ISBN PDF:-
Tebal:84 (viii+75) halaman
Harga:Rp40.000

Deskripsi

Lingsir Wengi – Merawat Asa dan Sunyi di Ambang Malam

Buku "Lingsir Wengi: Kumpulan Puisi #36" merupakan sebuah antologi sastra setebal 84 halaman yang lahir dari rahim kreativitas Komunitas Guru Menulis. Sebagai volume ke-36 dari karya kolaboratif para anggotanya, buku ini merangkum 54 puisi pilihan hasil buah pikiran enam penulis lintas daerah: Agus Supriyanto, Ayub Sigit Sapto Budoyo, Gusnawati, Hasmiaty Muh. Amir, Lusia Yuli Hastiti, dan Sri Edy Hernani. Menggunakan tajuk yang identik dengan suasana larut malam dalam tradisi Jawa, antologi ini menjelma sebagai ruang kontemplasi yang intim untuk mengeja kesunyian, dinamika rasa, serta ziarah batin manusia saat dunia mulai terlelap.

Mosaik Pergumulan Jiwa, Kritik Simbolis, dan Penerimaan Rasa:

1. Turbulensi Kehidupan dan Kepasrahan Spiritual:
Lembaran awal antologi ini dibuka dengan untaian refleksi emosional yang mendalam oleh Sri Edy Hernani. Lewat puisi-puisi seperti "Turbulensi Hidup" dan "Akhir Sebuah Perjuangan", pembaca diajak menyaksikan ketangguhan manusia saat diombang-ambingkan oleh ujian harian. Sudut pandang yang dihadirkan terasa sangat sportif; penulis tidak berpura-pura kuat, melainkan memeluk kerapuhan tersebut sebagai proses penataan batin, sebelum akhirnya menemukan pelukan damai dalam untaian "Doa".

2. Kritik Sosial-Kultural lewat Personifikasi Alam:
Agus Supriyanto kembali membawa radar kritisnya yang tajam ke dalam antologi ini, tetapi disajikan dengan gaya yang lebih simbolis. Melalui judul-judul unik seperti "Anjing Buduk", "Kepala Anjing", hingga konsep kesederhanaan radikal dalam "Ugahari", penulis melontarkan kegelisahan moralnya terhadap perilaku manusia modern yang kian pongah. Ia menawarkan literasi sebagai obat penawar, sebuah ajakan yang digaungkan secara lugas dalam bait "Mari Membaca".

3. Melodi Sunyi, Romansa, dan Sketsa Malam Jawa:
Sesuai dengan judul buku, Ayub Sigit Sapto Budoyo dan Lusia Yuli Hastiti memberikan napas kultural dan estetis yang sangat kental. Lewat puisi utama "Lingsir Wengi" dan "Ngudarasa" (mencurahkan isi hati), keheningan malam diubah menjadi sahabat hangat tempat manusia berdialog dengan jiwanya sendiri. Nada-nada romansa, luka yang mulai membaik, hingga penerimaan takdir mengalir lewat bait-bait puitis yang lincah, termasuk sentuhan personal dalam "Sayangnya, Aku Bukan Sindhunata". Keindahan estetis ini disempurnakan oleh kontribusi Gusnawati dan Hasmiaty Muh. Amir yang melukiskan keindahan sekaligus kepedihan melepas kenangan di bawah "Jingga di Langit Senja".

Kesimpulan: Ruang Jedah yang Menenangkan di Sela Rutinitas
Pada akhirnya, antologi "Lingsir Wengi" berhasil membuktikan bahwa menulis puisi adalah cara paling murni bagi para pendidik untuk menjaga kepekaan rasa di tengah kesibukan mengajar. Rangkaian kata yang terjalin dari enam isi kepala berbeda ini menjadi bukti bahwa sebuah karya sastra tidak selalu membutuhkan bahasa langit yang rumit untuk bisa menyentuh relung hati terdalam pembacanya.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat ringan, mengalir, sekaligus memberikan kehangatan kontemplatif. Kumpulan puisi ini sangat cocok dinikmati saat malam mulai merayap sunyi bersama secangkir teh hangat, menemani siapa saja yang ingin sejenak rehat dari kepenatan dunia luar dan kembali pulang memeluk diri sendiri.


Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Sri Edy Hernani .... 1
  • Kamu .... 2
  • Doa .... 4
  • Rasa .... 5
  • Walau Hanya Mimpi .... 6
  • Turbulensi Hidup .... 7
  • Akhir Sebuah Perjuangan .... 8
  • Seuntai Kata Untuk Ibu .... 10
  • Sakit .... 11
  • Cintailah Cinta .... 12
  • Luruh .... 13
  • Agus Supriyanto .... 14
  • Tamu Agung .... 15
  • Anjing Buduk .... 17
  • Kepala Anjing .... 19
  • Ugahari .... 20
  • Sederhana .... 21
  • Membaca .... 23
  • Mari Membaca .... 25
  • Ingatan Tragedi .... 27
  • Bulan Maria .... 29
  • Bahasa Persatuan .... 31
  • Bahasa .... 33
  • Ayub Sigit Sapto Budoyo .... 34
  • Menghentikan Malam .... 35
  • Ada Tuhan .... 36
  • Ngudarasa .... 37
  • Lingsir Wengi .... 38
  • Mendaur Cinta .... 39
  • Bukan Ilusi .... 40
  • Instrumentalia .... 41
  • Jaket Almamater .... 42
  • Cinta .... 43
  • Bunga dan Kupu .... 44
  • Anak Panah II .... 45
  • Lusia Yuli Hastiti .... 46
  • Itu Kan juga Takdir .... 47
  • Seandainya Cuma Mimpi .... 48
  • Bacalah Ma(n)t(r)aku Untuk yang Terakhir Kalinya .... 49
  • Sayangnya, Aku Bukan Sindhunata .... 50
  • Catatan Hari .... 51
  • Buah Pikiran .... 52
  • Bulan .... 53
  • Cita-Cita .... 54
  • Kesempatan Terakhir .... 55
  • Lupa Bersajak .... 56
  • Nelangsa .... 57
  • Peyeumpuan .... 59
  • Renungan Tiga Puluh Satu .... 60
  • Tetap Puisi .... 61
  • Gusnawati .... 62
  • Andai .... 63
  • Jalan Itu .... 64
  • Tulus .... 65
  • Masih Menunggumu .... 66
  • Kenangan .... 67
  • Hasmiaty Muh. Amir .... 68
  • Pelangi di Ujung Senja .... 69
  • Menghapus Bayangmu .... 70
  • Jingga di Langit Senja .... 71