Selipan Rindu di Meja Mei
|
Spesifikasi
|
Deskripsi
Selipan Rindu di Meja Mei – Dialektika Misteri, Estetika "Poieo", dan Ziarah Rasa sang Pemburu Senja
Buku "Selipan Rindu di Meja Mei: Kumpulan Puisi Gooten Seran" merupakan sebuah antologi sastra solo setebal 150 halaman yang menyajikan sebuah penjelajahan batin yang dalam, unik, dan penuh kejutan estetik. Ditulis oleh Andreas Gooten Seran, buku ini bertindak sebagai sebuah medan tegangan positif antara misteri yang tak terungkapkan dan ekspresi yang meledak-ledak. Penulis secara sportif bermain dengan diksi—menyingkap makna sekaligus menyungkupnya dalam kerahasiaan—sehingga setiap bait yang dibaca mampu menghadirkan sebuah pencerahan harian yang sejuk bagi jiwa yang dahaga akan keindahan. Mengusung energi poieo (menciptakan/membuahkan), antologi ini mengajak pembaca bukan sekadar membaca, melainkan "berpuisi untuk berbuah" dalam kehidupan nyata.
Mosaik Eksistensial, Paradoks Cinta, dan Sketsa Sosial yang Membumi:
1. Estetika Luka dan Simfoni Rindu yang Tak Bertepi:
Poros kekuatan emosional antologi ini digerakkan oleh kepiawaian Gooten Seran dalam membedah rindu dari berbagai sudut pandang yang tidak biasa. Melalui rangkaian judul yang puitis seperti "Selipan Rindu di Meja Mei", "Padang Rindu", dan "Jelmaan Rindu dalam Kata", penulis menawarkan sebuah formula bahasa yang sangat ringan tetapi mampu menyentuh hulu hati. Rindu dalam buku ini bertransformasi menjadi sebuah ziarah harian yang melintasi berbagai kota dan lanskap, mulai dari "Wahai Diam Jogja dalam Cinta", "Kupang Haus Bersih", hingga "Kisah Cinta di Kaki Ile Mandiri". Sajak-sajak ini menjadi ruang katarsis bagi para "penikmat luka" untuk menemukan kembali harapan di balik kesunyian malam.
2. Radar Kritik Sosial, Politik, dan Kegelisahan Kemanusiaan:
Gooten Seran tidak hanya terpaku pada romantisme semu; ia secara lincah membawa pembaca pada pengamatan harian yang tajam terhadap realitas sosial. Melalui puisi bertajuk "Politik Berdasi", "Kampanye Bukan Utopia", dan "Di Depan Ruang Tunggu, Negeri Hampa", penulis menyuarakan kegelisahan moral terhadap ketidakadilan dan kepalsuan zaman. Langkah edukasi karakter ini diperkuat dengan refleksi mengenai identitas dan integritas dalam sajak "Nama Adalah Tanda" serta "Filosofi Anak Tangga". Kehadiran tema-tema berbobot ini membuktikan bahwa puisi adalah instrumen perjuangan harian untuk menjaga tatanan kehidupan yang lebih manusiawi dan beradab.
3. Ziarah Teologis, Filosofi Alam, dan Kepasrahan batin:
Warna emosional antologi ini ditutup secara teduh oleh untaian kepasrahan teologis dan penghormatan terhadap alam semesta. Menggunakan istilah-istilah religius yang mendalam seperti "Duc In Altum", "Selamat Ascended", dan "Pencuri di Ladang Tuhan", Gooten mengajak pembaca untuk melakukan percakapan sunyi dengan Ilahi. Kedekatan harian dengan alam terekam manis lewat metafora "Gadis Alang-Alang", "Merapi yang Tetap Bersinar", dan "Hujan dalam Setia". Rangkaian puisi ini memberikan pencerahan batin yang hangat, mengingatkan manusia untuk tetap rendah hati dan bersyukur dalam setiap detak waktu yang tersisa.
Kesimpulan: Langkah yang Tergugat dan Hati yang Tergugah
Pada akhirnya, antologi "Selipan Rindu di Meja Mei" berhasil membuktikan bahwa karya sastra yang bermutu tinggi lahir dari kejujuran rasa dan keberanian untuk tampil beda. Kekuatan utama dari karya Andreas Gooten Seran ini terletak pada kelancaran bertuturnya yang mengalir tanpa beban, dikemas dengan gaya yang unik tetapi tetap mudah dicerna, serta memiliki kedalaman filosofi yang membumi.
Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan dan hangat, memberikan ruang jeda kontemplatif yang menenangkan di kala senja tiba. Sangat direkomendasikan bagi mahasiswa, praktisi literasi fiksi, sesama rekan pendidik, serta seluruh pecinta puisi Nusantara yang merindukan bait-bait bersahaja untuk menemani waktu santai di sore hari bersama secangkir kopi hitam yang tak lagi panas.
Daftar Isi
- Pengantar: Misteri DAN Ekspresi .... v
- Narasi Danke .... vii
- Daftar Isi .... ix
- Estetika Lahir dan Berbuah .... 1
- Madu di Meja 16 Juli 1849 .... 2
- Keadilan Cinta .... 4
- Di Depan Ruang Tunggu, Negeri Hampa .... 6
- Tebing Tinggi di Januari 2018 .... 7
- Target .... 8
- Darah Putih .... 9
- Anak Darah .... 10
- Tentang Rasa .... 11
- Kairos Gadis Alang-Alang .... 12
- Upin di Kepalan Malam .... 13
- Edisi Khusus Teruntuk Penikmat LDR Senja Di Meja Ratu .... 14
- Nama Adalah Tanda (ug) .... 15
- Setengah Gila Sahabat Hati yang Didengungkan .... 17
- Di Deretan Mahligai Cinta .... 19
- Selamat Ascended .... 20
- O Rona Lai .... 21
- Palungan Senja .... 22
- 31 April 2018 .... 23
- Pesona Jiwa .... 24
- Filosofi Anak Tangga .... 25
- Satu Alasan .... 26
- Tentang Pena .... 27
- Percakapan yang Berlibur .... 28
- Sejauh Entah Energi Ini .... 29
- Rasa yang Telanjang .... 31
- Politik Berdasi .... 32
- Kampanye Bukan Utopia .... 34
- Sepilah Rasa Tentang Janji .... 36
- Hati Yang Tertawa .... 37
- Kau Sinis? Mari Damai .... 38
- Semoga .... 39
- Yang Terciduk .... 40
- Arti Sebuah Nama .... 41
- Dawai Senja .... 42
- Merpati Terhimpit .... 43
- Sepi Malam Minggu .... 44
- Aku di Mana? .... 45
- Hujan dalam Setia .... 46
- Pergimu .... 47
- Gadis Berleher Selendang .... 48
- Dunia Selimut .... 49
- Malam .... 50
- Carpediem .... 51
- 17072017 .... 52
- Sebuah Rindu? .... 53
- Novum dan Kekosongan di Februari .... 54
- Terdalam Tentang Para Pendaki .... 55
- Pemburu Senja .... 56
- Perihal Maaf .... 57
- Kupang Haus Bersih Kata Rindu Untuk Jernih .... 58
- Catatan Hati Si Penikmat Luka .... 60
- Anak Panah .... 61
- Parasit Jinak .... 63
- Vos Amici Mei Estis .... 64
- Wahai Diam Jogja dalam cinta .... 66
- Kepadamu yang Terlahir .... 67
- Selamat Pagi yang Berdetak .... 68
- Kisah Angsa Putih yang Jantan .... 69
- Syair dari Benlutu .... 70
- O Erocras di Merapi yang Tetap Bersinar? .... 71
- Selamat Pagi Rinduku .... 72
- Masih Awet di Gunung Tinggi Sisa Dari Potret AEYG Jogja .... 73
- Surat dari Bola Mata .... 74
- Rasa yang Telanjang Lidah Ingin Lagi Merasa .... 76
- Hewan Malam Teruntuk Sang Penukar Rasa .... 78
- Darah Beraroma Nira Kisah Si Penikmat Hati .... 79
- Juntai Mata .... 81
- Setelah senja ada sorot sepi di ujung jari. Lentera venus dalam pencarian .... 83
- Ranjau Cinta .... 85
- Catatan Hati Si Suka Jingga .... 86
- Serumpun Membait. Semestaku adalah kamu .... 88
- Untuk Wanita Sang Pengajak Rindu .... 89
- Mama Aku ini Sang Juara .... 90
- Pelabuhan Gerimis .... 92
- Catatan Hati Si Penikmat Rindu .... 93
- Sajak Hati untuk Hati yang Hampir Ditelanjangi .... 94
- Nantikan aku di batas hari. Edisi rindu dalam tangan tak menggenggam .... 95
- Gurami Berpesta Edisi miss you di Kota Tua .... 97
- Jelmaan Rindu dalam Kata (katong pung Carita) .... 98
- Rindu Mengkhianati aku sayang spesial gagal move on ka ini? .... 100
- Padang Rindu .... 101
- Surat Cinta .... 102
- Pulang .... 103
- Kunang-kunang di tepi jalanan Teruntuk yang tak dapat digenggam karena mitos .... 104
- Ngap-ngap rindu di pojok senja Kopi hangat dari Negeri Sejuta bintang .... 105
- Alleluya dalam Kesepian Kain Kafan .... 106
- Untukmu Wanitaku .... 107
- Rindu Ada di setiap Senja .... 109
- Kisah Cinta di kaki Ile Mandiri .... 110
- Jalan Panjang Menuju Pulang .... 111
- Wajah Selimut Malam .... 112
- Saya, dia dan Dia lagi hanya berparas dalam doa .... 113
- Sekeping Kerang Buat Kekasih Upin Saudara Rinduku .... 114
- Sebuah Hening di Tepi Malam .... 115
- Cinta Dua Musim .... 116
- Di Sini, di Sisiku .... 118
- Sahabat .... 120
- Sembahyang .... 121
- Aku Mengerti .... 122
- Alam dalam Selimut Wajah .... 123
- Balada seorang Terpungut .... 124
- Menggigil .... 125
- Lihat, Cara Kami Tulus .... 126
- Pencuri di Ladang Tuhan .... 127
- Senja di Yogyakarta .... 128
- Duc In Altum .... 129
- Salah? .... 130
- Kopi Hitam Tak Lagi Panas .... 131
- Teruntuk Yang Berhijab .... 133
- Teruntuk Wajah Hati .... 135
- Wasiat dari Ayah .... 136
- Tentang Penulis .... 137