|
|
Spesifikasi
| Kode | : | 120041 |
| Judul | : | Kala yang Tak Kusangka: Kumpulan Puisi Pandemi #2 |
| Penulis | : | Agus Supriyanto, Ani Purwati, Catur Riyanti, Desrianti, Eti Suhayati, Evy Chrisna, Gusnawati , Hironimus Deo, Hortensia Herima, Kosmas Lawa Bagho, Lorentina, Lukas Onek Narek, Marfidah, Maria Bura, Muhamad Nursyahid, Neti Soelistyani, Pujarsono, R.N.D. Krisnawati, Retty Anggriany, Siti Fadilah, Sumi Arsih, Susanti Wilujeng, Tobias Nggaruaka, Tri Handayani, Yanti Aries Putri, Yanti Rosa, Yerem B. Warat |
| Tahun Terbit | : | 2020 |
| ISBN | : | 978-623-7421-25-2 |
| eISBN | : | - |
| ISBN PDF | : | - |
| Tebal | : | 122 (viii+106) halaman |
| Harga | : | Rp60.000 |
|
Deskripsi
Kala yang Tak Kusangka – Monumen Refleksi, Labirin Waktu, dan Jejak Rasa Nusantara
Buku "Kala yang Tak Kusangka: Kumpulan Puisi Pandemi #2" merupakan sebuah antologi puitis setebal 122 halaman yang lahir dari akumulasi rasa dan kegelisahan kolektif. Sebagai volume kedua dari Proyek Penulisan Refleksi Corona yang digagas oleh Komunitas Guru Menulis, buku ini mengompilasi ratusan bait puisi karya 27 penulis dari berbagai pelosok daerah Nusantara. Mayoritas penulis di dalam buku ini berprofesi sebagai pendidik, berkolaborasi dengan penulis dari latar belakang pekerjaan lainnya. Tajuk utama buku ini dipilih sebagai representasi sebuah fase transisi yang berat; sebuah gambaran tentang realitas bahwa manusia dipaksa untuk terus menunggu, di kala harapan awal agar krisis segera berlalu justru membentur ketidakpastian yang panjang.
Mosaik Penantian, Kritik Keseharian, dan Ruang Damai yang Bersahaja:
1. Dilema Pendidikan dan Adaptasi Ruang Domestik:
Latar belakang para penulis sebagai pendidik memberikan kepekaan yang luar biasa dalam memotret perubahan drastis di dunia sekolah. Melalui judul-judul puisi seperti "Belajar di Rumah", "Rindu Bangku-Bangku Kosong", "Belajar dalam Jaringan", hingga diksi jenaka penuh sindiran seperti "Gaji Buta", para guru secara sportif merekam gejolak batin mereka. Penulis tidak berusaha menutupi kepenatan, melainkan menjadikannya sebagai ruang harian untuk mengeja arti kerinduan kepada murid, papan tulis, serta riuhnya suasana kelas konvensional yang mendadak sepi.
2. Sketsa Sosial, Teori Konspirasi, dan Simbol Akar Rumput:
Radar humaniora dari 27 isi kepala di dalam buku ini bergerak lincah menembus dinding pagar rumah. Mereka menangkap bagaimana krisis kesehatan global mengubah perilaku sosial masyarakat luas secara apa adanya. Lewat puisi bertajuk "Konspirasi", "PSBB katanya", hingga potret kaum marginal dalam "Corona dan Pemulung", antologi ini menjadi saksi sejarah yang jujur. Para penulis mengabadikan memori kolektif tentang perjuangan bertahan hidup, kelangkaan alat medis yang memicu lahirnya "Jas Hujan yang Mendunia", serta bagaimana momentum sakral keagamaan seperti "Ramadan Ini" dan "Lebaran dalam Corona" harus dirayakan dalam riuh kesunyian.
3. Ziarah Spiritual dan Katarsis Lewat Secangkir Sabar:
Kekuatan utama yang merekatkan seluruh untaian puisi dalam antologi ini adalah kesadaran spiritual untuk kembali berserah diri. Di tengah badai kecemasan, menulis puisi bertindak sebagai media katarsis yang menyembuhkan batin. Melalui bait-bait indah seperti "Secangkir Kopi Sabar di dalam Pagar", "Tabir Hikmah", dan "Pada-Mu Diriku Fana", pembaca dituntun untuk melambat, mawas diri, serta melihat virus berukuran mikro ini sebagai teguran sekaligus cara alam semesta memaksa manusia untuk hidup lebih bersahaja.
Kesimpulan: Prasasti Kata Penjaga Memori Sejarah
Pada akhirnya, antologi "Kala yang Tak Kusangka" berhasil membuktikan bahwa menulis adalah cara paling abadi untuk merawat kewarasan di tengah situasi pelik. Rangkaian kata yang terjalin rapi ini memastikan bahwa jejak langkah, air mata, serta ketangguhan jiwa manusia selama melewati masa-masa sulit akan tetap terpatri dan dapat dibaca kembali oleh generasi masa depan.
Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat ringan, mengalir lancar, sekaligus kaya akan untaian hikmah kehidupan. Sangat direkomendasikan bagi sesama guru, pelajar, sosiolog, serta siapa saja yang ingin sejenak berkaca pada lembaran sejarah kemanusiaan yang jujur, menyentuh hati, dan penuh dengan optimisme yang membumi.