Deskripsi
Ini adalah buku yang kesembilan yang lahir dari rahim daya kreasi para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis. Dalam buku ini terdapat 65 puisi karya tiga orang guru.
Sepotong bulan bertengger di balik jendela
Ludovika Endang Sulastri
Sepotong bulan bertengger di balik jendela
Kutengadah sambil terpesona
Alangkah indahnya,
dan alangkah anggunnya.
Kucecap malam dalam hening
Kunikmati dalam sendiri,
Sepotong bulan bertengger di balik jendela,
Dalam lingkar aura,
Kutatap kuningnya yang merah,
Merahnya yang terang, terangnya bulan cantik
Sesisip tanya menggeletar
Ayah, sedang apakah engkau?
Kutarik segera jiwa meratap,
pantaskah aku meratap?
Jangan-jangan membuat jiwanya
terluka ...
memandang sang anak?
Di tengah rimba kehidupan,
Dalam kesunyian mencekam
Biarlah ...
Kusampaikan ...
Ayah ... aku baik-baik saja, meski sedikit rindu
Sepotong bulan bertengger di balik jendela.
Daftar Penulis dan puisinya:
Lodevika Endang Sulastri
Dari Gunung Tabor ke Kalvari
Tanyaku pada Tuhan
Melayang
Sejenak lewat
Bawakan seteguk mimpi
Nostalgi ...
Obsesi
Memburu waktu
Jatuh cinta lagi ...
Mataku pandang Cahaya-Mu
Kidung Cinta dan Hosea
Kebenaran ...?
Pasca tahun baru (2008)
Datanglah Sang Cahaya
Allah yang mengasihi
Di Hati-Mu
Tuhanlah Gembalaku
Beri Aku Hidup
Pulanglah
Pulang pada Hati
Rindu
Tapi Siapa
Angelus
Peluklah Aku Tuhan
Sepotong bulan bertengger di balik jendela
Tyas Rahmani Anggaraningsih
Kau Ajari Aku untuk Berliterasi
Inspirasi yang Terkubur
Satu Ayat Untukmu
Kinanti Anak Negeri
Selamat Pagi Pendidikan
Sajak Irama Pagi
Puisi Bingung
Jembatan Keledai dan Rumus Bahasa
Tragedi Jumat Pagi
Pesan Ananda
Tamu Pelangi di Malam Hari
Syair Sepotong Rindu
Dua Srikandi
Epifora Cinta
Transaksi
Negeri Mimpi
Kehilangan
Jalan Pulang
Lelaki yang Punya Usia
Merindu dalam Doa
Ratna Agustina
Terbanglah
Kau 58
Seiring
Kepak Sayapmu
Lihat Catat dan Ingatlah
Ketika Bersua
Langit Senja dan Kekasihku
Hari Pernikahan
Hari Lahirmu
Sajak untuk Anakku
Selamat Tinggal
Yang Tidak Tak Terbatas
Cermin
Kunci Hati
Mengeja Nama
Secuil Kepingan
Membaca Massal
Kartini Adalah
Semasa
Prasangka