Deskripsi
Buku "Mengantepi Rasa Rambang: Kumpulan Kisah di Tengah Pandemi" adalah sebuah antologi menyentuh yang mendokumentasikan pergulatan manusia saat menghadapi badai global Covid-19. Judulnya yang puitis—Mengantepi Rasa Rambang—menggambarkan upaya untuk memantapkan hati di tengah keraguan dan ketidakpastian yang melanda sejak akhir 2019. Melalui 19 tulisan yang disusun oleh 17 penulis dari berbagai latar belakang, buku ini bukan sekadar catatan medis atau statistik, melainkan sebuah mosaik pengalaman batin yang jujur.
Secara tematik, buku ini dibagi menjadi empat bagian besar yang memotret transformasi kehidupan dari berbagai sudut pandang:
1. Krisis yang Mengungkap
Bagian pembuka ini menyelami bagaimana pandemi menjadi cermin bagi diri sendiri. Para penulis seperti Siti Fadilah dan Ani Irawanti mengungkap sisi emosional yang selama ini tersembunyi. Krisis ini memaksa kita berhenti sejenak dari rutinitas, "dari laptop turun ke dapur," dan menemukan makna di balik butiran peluh serta coretan hati seorang guru yang merindukan ruang kelasnya. Pandemi di sini dipandang sebagai momentum penyingkapan jati diri yang autentik.
2. Masyarakat Bergerak
Di tengah isolasi, kemanusiaan justru semakin berpijar. Bagian ini mengisahkan ketangguhan komunitas untuk tetap berdaya. Fransiska Jone Mare, misalnya, menceritakan kegigihan merintis Sanggar Budaya “Saso Lure Todo Bawa“ meski wabah mengintai. Ada semangat sinergi dan kolaborasi yang kuat, membuktikan bahwa meskipun jarak fisik menjauh, solidaritas masyarakat justru semakin erat dalam menghadapi ancaman bersama.
3. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
Dunia pendidikan mengalami revolusi paksa yang drastis. Bagian ini memotret dinamika Learning From Home (LFH) yang penuh tantangan. Dengan gaya bahasa yang jenaka namun reflektif, pembaca diajak menyelami problematika "LDR yang sering di-PHP" hingga perjuangan para guru di daerah seperti SMP Negeri Wulanggitang. Istilah "bisa karena dipaksa" menjadi kenyataan pahit sekaligus manis dalam mengadopsi teknologi demi menjaga nyala api pendidikan.
4. Aneka Cerita Corona
Bagian penutup ini berisi kisah-kisah unik dan tragis yang terjadi secara bersamaan. Retty Anggriany menuliskan betapa beratnya menghadapi corona ketika musibah banjir turut melanda, serta pahitnya sebuah perpisahan sekolah yang harus dilakukan secara daring. Kisah-kisah ini menjadi penutup yang mengingatkan kita pada "kehidupan baru" yang kini harus kita jalani.
Relevansi Abad ke-21:
Lebih dari sekadar kumpulan cerita, buku ini menekankan pentingnya penguasaan keterampilan 4C: critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi). Di era di mana mesin mulai menggantikan pekerjaan manusia, keempat aspek inilah yang menjadi "jangkar" agar manusia tetap bertahan dan berkembang. Mengantepi Rasa Rambang adalah saksi bisu sekaligus panduan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana cara manusia tetap menjadi "manusia" di tengah guncangan krisis yang luar biasa.