Deskripsi
Buku "Educating Mind and Heart" merupakan kumpulan pemikiran mendalam dari Gusti Omkang Hingmane, S.Pd., Gr., seorang praktisi pendidikan yang memilih untuk tidak sekadar berdiri di depan kelas, tetapi juga menceburkan diri dalam dinamika pendidikan melalui tulisan. Buku ini menghimpun 23 artikel yang sebelumnya telah tersebar di berbagai media cetak maupun daring. Di dalamnya, penulis menuangkan kegelisahan, pengalaman, serta pergulatannya dalam melihat dunia pendidikan dari berbagai sudut pandang yang sering kali terabaikan.
Judul buku ini mencerminkan visi besar penulis: bahwa pendidikan sejati tidak boleh berhenti pada pengasahan nalar (mind), tetapi harus mampu menyentuh relung hati (heart). Esensi ini diperkuat oleh Prof. Feliks Tans, M.Ed., yang dalam pengantarnya menegaskan bahwa karya Gusti Omkang Hingmane mengajak kita untuk mendidik secara total. Mengutip pandangan John Dewey, pendidikan di sini dipandang sebagai proses sosial dan kehidupan itu sendiri, bukan sekadar persiapan untuk masa depan. Prof. Feliks Tans bahkan menyebut buku ini sebagai karya yang "enak dibaca dan perlu," sebuah sumber inspirasi untuk memperjuangkan kebaikan bagi semua orang tanpa sekat latar belakang sosial.
Eksplorasi Pemikiran dalam 23 Artikel:
Secara garis besar, ke-23 artikel dalam buku ini membedah berbagai isu krusial yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa tema utama:
Kritik terhadap Institusi dan Mutu Pendidikan: Melalui artikel seperti "Universitas, Produksi Ijazah atau Kualitas?", "Universitas Bukan Pasar", serta "Degradasi Mutu Pendidikan", penulis melontarkan kritik tajam terhadap komersialisasi pendidikan. Ia mempertanyakan apakah lembaga pendidikan tinggi saat ini masih menjadi pusat ilmu atau telah beralih fungsi menjadi pabrik ijazah semata.
Kebijakan dan Dinamika Nasional: Penulis tidak segan bersuara lantang mengenai kebijakan makro, seperti dalam artikel "Mempertanyakan Ujian Nasional" dan "Mendiknas dan DPR Tak Bermata". Ia menyoroti bagaimana keputusan di tingkat pusat sering kali tidak sinkron dengan realitas di lapangan.
Etika dan Karakter Pendidik: Isu moralitas menjadi sorotan dalam tulisan "Nepotisme atau Objektivisme dalam Penilaian" serta "FKIP versus KKN". Penulis mengajak sesama pendidik untuk menjunjung tinggi profesionalisme dan keprofesian melalui tulisan ("Guru Menulis Untuk Pengembangan Keprofesian").
Budaya, Bahasa, dan Sosial: Ketertarikan penulis terhadap isu sosial tercermin dalam "Bahasa Daerah dan Degradasi Penuturnya" serta "Lida (H) Hamid dan Keket Berdangdut Pesan". Ia melihat pendidikan sebagai alat untuk menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Refleksi Diri dan Kepemimpinan: Tulisan seperti "If I Were A President" dan "Manusia Baru di Tahun Baru" menunjukkan sisi visioner penulis dalam memimpikan perubahan besar yang dimulai dari transformasi individu.
Buku ini adalah undangan bagi para guru, dosen, mahasiswa, dan orang tua untuk melihat kembali hakikat pendidikan. Dengan gaya bahasa yang lugas namun reflektif, "Educating Mind and Heart" membuktikan bahwa seorang guru adalah intelektual publik yang memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengkritisi dan memperbaiki sistem demi martabat kemanusiaan. Sebagai koleksi yang layak menempati rak perpustakaan pribadi, buku ini akan terus memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin berjuang bagi dunia pendidikan yang lebih baik.