• Kenikmatan

    Puisi Puncak Kenikmatan

    Refleksi teologis, pedagogi kasih, dan katarsis jiwa kaum pendidik.

    Empat pengajar Nusantara merajut keheningan spiritual semesta, filsafat mengajar humanis di kelas, serta pertanyaan eksistensial batin yang mendalam.

    Read More
  • Takaran

    Menyukat Kesemenjanaan Kita

    Pandemi adalah cermin retak yang memaksa kita mengukur ulang standar kemanusiaan.

    Menguliti ketangguhan moral, kreativitas, dan keruntuhan ego manusia saat dihajar krisis global.

    Read More
  • Senja

    Senja di Bukit Cinta

    Elegi lara, refleksi bencana nasional, dan geguritan tradisi Jawa.

    Merajut katarsis emosional atas duka kehidupan, kepasrahan batin, hingga pelestarian sastra kultural yang membumi.

    Read More
  • Kesetaraan

    Kesetaraan Gender dari Perspektif Gereja

    Panduan teologis mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

    Membedah bias patriarki melalui landasan Kitab Suci untuk membangun kemitraan setara dalam keluarga dan pelayanan.

    Read More

Tak Kuduga, 'Ku Dukuh

Tak Kuduga, 'Ku Dukuh

Spesifikasi

Kode: 510006
Judul: Tak Kuduga, 'Ku Dukuh
Penulis: Felix Kris Alfian
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 978-623-7421-74-0
eISBN: -
ISBN PDF: 978-623-7421-73-3
Tebal: 148 (xii+136) halaman
Harga: Rp70.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Deskripsi

Tak Kuduga, ‘Ku Dukuh – Seni Menyeimbangkan Tesis dan Administrasi Desa

Buku "Tak Kuduga, ‘Ku Dukuh" adalah sebuah memoar segar yang menceritakan perjalanan hidup Felix Kris Alfian yang penuh dengan kejutan. Bayangkan seorang akademisi lulusan filsafat, yang biasanya berkutat dengan teori-teori besar dan perenungan mendalam, tiba-tiba harus turun ke lapangan untuk menjadi seorang Dukuh (pemimpin dusun) di Pedukuhan Tegallurung. Buku setebal 148 halaman ini memotret dinamika luar biasa saat idealisme bangku kuliah berbenturan—dan akhirnya berpadu—dengan kenyataan sosial yang nyata dan sering kali lucu di tingkat pedukuhan.

Penulis membuktikan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana yang kaku. Melalui gaya bahasa yang akrab dan "ngobrol", ia mengajak pembaca menelusuri transisi perannya: dari seorang mahasiswa yang sedang memikirkan tesis, menjadi sosok pemimpin dusun yang harus memikirkan bantuan sosial hingga urusan surat pajak warga.

Eksplorasi Perjalanan dan Peristiwa Unik:

Antara Panggilan dan Kejutan Sosial:
Buku ini dimulai dengan kisah "Terkonfirmasi" mengenai awal mula ia dicalonkan sebagai Dukuh—sebuah posisi yang tidak pernah ia mimpikan. Felix menceritakan kegokilan identitasnya di tengah masyarakat, seperti dalam bab "Mana Bu Dukuh?" (mengingat ia seorang laki-laki lajang atau muda) hingga tantangan kultural yang ia hadapi dalam bab "Nggak Bisa Pake Pecis dan Sarung".

Multiperan: Dukuh, Guru, dan Pelayan Masyarakat:
Keunikan buku ini terletak pada kemampuan penulis menjalankan banyak peran sekaligus. Dalam bab "‘Ku Dukuh, ‘Ku Guru", kita melihat bagaimana ia harus membagi waktu antara mengajar dan mengayomi warga. Ia juga terlibat aktif dalam memajukan pendidikan usia dini melalui peran sebagai Ketua PokJa PAUD ("PAUD Among Lare, Mau Dibawa ke Mana?"). Tidak jarang, ia harus melakukan tugas fisik yang jauh dari kesan formal, seperti yang diceritakan dalam "Dukuh Usung-usung".

Metodologi Kepemimpinan Modern di Desa:
Meskipun bergaya santai, buku ini juga menyelipkan metode kepemimpinan yang berbobot. Penulis menerapkan pendekatan ABCD (Asset Based Community Development) dan Appreciative Inquiry untuk membangun sistem di dusunnya. Ia mencoba menjadi "Dukuh yang Gaul", yang mampu menjembatani mahasiswa KKN dengan kearifan lokal tanpa kehilangan wibawa sebagai pengayom.

Refleksi Hidup dan Makna Pelayanan:
Di bagian akhir, buku ini berubah menjadi sangat kontemplatif. Felix merefleksikan bahwa kepemimpinan adalah soal pelayanan. Mengutip semangat "Ad Maiora Natus Sum" (Aku dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar), ia menutup kisahnya dengan kesadaran bahwa menjadi Dukuh adalah sebuah misi spiritual untuk menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.

Kesimpulan: Spiritualitas dalam Pengabdian yang Membumi
Puncak dari buku ini bukan pada pencapaian administratif sang Dukuh, melainkan pada penemuan misi hidup yang dipeluk dengan kesadaran penuh. Felix Kris Alfian menemukan bahwa pengabdian di pedukuhan adalah sebuah bentuk nyata dari spiritualitas yang membumi. Baginya, melayani warga—mulai dari urusan aqiqah hingga yasinan—adalah sebuah perjalanan iman yang melatih kerendahan hati.

Ia menghayati peran Dukuh bukan sebagai kekuasaan, melainkan sebagai wujud nyata pengabdian kepada bangsa melalui unit terkecil masyarakat. Spiritualitas ini ia temukan bukan di dalam kesunyian rumah ibadah, melainkan di tengah riuh rendah ibu-ibu PKK dan obrolan warung kopi. Dengan penuh kesadaran, ia memeluk misi ini: bahwa menjadi "terbesar" berarti menjadi pelayan bagi sesama. Buku ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa misi bagi bangsa bisa diwujudkan di mana saja, bahkan di sebuah dusun kecil, asalkan dijalani dengan hati yang tulus dan semangat untuk terus memanusiakan manusia.

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Daftar Isi

  • Pengantar Penulis .... v
  • Pedukuhan Tegallurung .... vii
  • Daftar Isi .... xi
  • Awal Mula .... 1
  • Sebuah Perjalanan Panggilan .... 2
  • Mengolah Panggilan Jilid II .... 5
  • Terkonfirmasi: Kisah Awal Dicalonkan Dukuh .... 9
  • Untaian Kata ‘tuk Bersyukur .... 15
  • Aneka Peristiwa .... 24
  • Mana Bu Dukuh? .... 25
  • Tugas Pertama: Membagi Surat Pajak .... 28
  • Sambat Bersama Mas Fauzan .... 30
  • Rosario Ketika Yasinan .... 32
  • Ndukuh, Ndukun .... 36
  • Berkat Anak di Aqiqah .... 40
  • Bingung Masrahke Makan .... 42
  • Komandan Para Ibu PKK .... 45
  • ‘Ku Dukuh, ‘Ku Guru .... 48
  • PAUD Among Lare, Mau Dibawa ke Mana? .... 52
  • Menjadi Ketua PokJa PAUD .... 57
  • KKN: Nongkrong Bareng Dukuh .... 61
  • Nggak Bisa Pake Pecis dan Sarung .... 65
  • Belajar Mengurus Surat Kependudukan .... 67
  • Dukuh Usung-usung .... 69
  • Kelompok Budaya .... 72
  • Banyak Singkatan di Indonesia .... 78
  • Membangun Sistem .... 81
  • ABCD dan Appreciative Inquiry .... 83
  • Percakapan Tiga Langkah .... 89
  • Dukuh yang Gaul .... 95
  • Refleksi Kisah .... 100
  • Bayi Ditetah .... 101
  • Jadi Dukuh itu Sibuk .... 104
  • Belajar, Mengajar, Memimpin, dan Mengayomi .... 108
  • Barang Siapa Terbesar di Antara Kamu, Hendaklah Ia Melayani .... 115
  • Ia yang Telah Memulai Pekerjaan Baik, Akan Menyelesaikannya .... 119
  • Ad Maiora Natus Sum .... 123
  • Foto .... 127
  • Kata yang Menutup .... 131
  • Tuhan, Jadikanlah Aku Pembawa Damai .... 133
  • Tentang Penulis Dan Ilustrator .... 135

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !