Deskripsi
Coretan Mantan – Ziarah "Awam Magang" dalam Mencari Makna
Buku "Coretan Mantan" merupakan kelanjutan intim dari ziarah hidup Felix Kris Alfian setelah memutuskan untuk melepaskan statusnya sebagai calon rohaniwan. Jika buku sebelumnya adalah tentang keputusan besar, buku setebal 66 halaman ini adalah tentang keseharian yang "serba-random"—sebuah kumpulan refleksi yang jujur, mentah, dan apa adanya. Ditulis selama masa yang ia sebut sebagai fase "awam magang", buku ini memotret satu tahun pertama transisi penulis dari lingkungan biara yang teratur ke dalam hiruk-pikuk dunia nyata yang sering kali membingungkan.
Judul "Coretan Mantan" mewakili kejujuran penulis bahwa hidup setelah keluar dari seminari tidak langsung berjalan linier dan rapi. Melalui kumpulan coretan di buku harian saat sedang melamun, galau, hingga momen mendapatkan insight mendadak, Felix mengajak kita melihat bahwa proses menjadi awam adalah sebuah perjuangan untuk tetap "waras" dan beriman di tengah situasi yang sama sekali baru.
Eksplorasi Perjalanan dan Realitas Baru:
Gegar Budaya dan Perjuangan Eksistensial:
Dalam bagian "Beranjak Dewasa", penulis membagikan sisi manusiawi yang sangat relatable, seperti rasa "Takut Kembali ke Gereja" karena label "mantan frater" yang melekat, hingga perjuangan pragmatis "Mencari Kerja" dan "Sibuk Bekerja demi Masa Depan". Ia menunjukkan bahwa transisi ini bukan sekadar pindah status, tapi sebuah proses pendewasaan yang menantang.
Spritualitas di Tengah Ketidakpastian:
Lewat bab "Tuhan Suka Bercanda" dan "Situasi yang Tidak Pasti", Felix merefleksikan bagaimana rencana Tuhan sering kali tidak terduga. Judul unik seperti "Skripsi Tanpa Ayang" memberikan sentuhan humor segar yang menunjukkan sisi kemanusiaan seorang mantan frater yang kini mulai bersentuhan dengan dinamika sosial anak muda pada umumnya.
Gusti Nate Sare (Tuhan Pernah Tidur):
Bagian ini adalah puncak refleksi iman yang sangat mendalam. Dengan gaya bahasa yang membumi, penulis menyentuh tema-tema berat seperti "Meninggalkan Tuhan?" dan kesunyian doa yang seolah hanya "Centang Biru". Ia berani mempertanyakan kehadiran Tuhan di tengah "Kabar Dukacita Maria", namun akhirnya menemukan kedamaian dalam kesadaran bahwa Tuhan selalu menjaga dengan cara-Nya sendiri.
Misi Menemukan Cinta:
Sebagai penutup yang manis, bagian "Misi ‘tuk Jatuh Cinta" memberikan nuansa harapan. Ini bukan hanya tentang cinta romantis, tapi tentang misi untuk mencintai hidup kembali, mencintai pilihan baru, dan mencintai Tuhan dalam rupa yang berbeda.
Kesimpulan: Spiritualitas yang Membumi dan Misi Hidup yang Utuh
Puncak dari buku "Coretan Mantan" adalah penemuan misi hidup sebagai sebuah bentuk spiritualitas yang dipeluk dengan penuh kesadaran. Felix Kris Alfian menemukan bahwa menjadi "mantan" bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal untuk melayani bangsa melalui jalur profesional dan kemasyarakatan. Ia menghayati bahwa melayani Tuhan tidak harus selalu dari balik jubah, melainkan melalui kerja keras, kejujuran dalam mencari nafkah, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Spiritualitas yang ia temukan adalah spiritualitas yang "berkeringat"—yang hadir saat ia lelah bekerja, saat ia berjuang menyelesaikan studi, dan saat ia mencoba menjadi warga masyarakat yang baik. Ia sampai pada pemahaman spiritual bahwa Tuhan tidak hanya ada di altar, tapi juga ada di meja kantor dan dalam kegalauan hati seorang pengangguran yang mencari arah.
Buku ini menegaskan bahwa misi pendidikan dan pengabdian bagi bangsa adalah wujud spiritualitas yang dijalani dengan sadar. Dengan membagikan "coretan" yang jujur ini, Felix sedang melakukan misi untuk menguatkan siapa saja yang sedang menghadapi situasi baru agar tidak menyerah. "Coretan Mantan" adalah bukti bahwa setiap jejak hidup, sekacau apa pun kelihatannya, adalah goresan tangan Tuhan yang sedang menyusun sebuah mahakarya.