• Terbaru

    3 Alinea Kisah

    Kisah nyata mengenai cinta, ayah, ibu, anak, ulang tahun dalam 3 alinea.

    Sebagian besar mungkin sekilas tampak sederhana dan biasa saja, tetapi menjadi begitu bermakna dan kaya setelah terolah oleh pergulatan hidup dan refleksi bersama waktu.

    Read More
  • Novel

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa karya R.N.D Krisnawati

    Pengajeng-ajeng gesang tentrem ing bebrayan, kanyata mas Sutrisno nyimpen sejarahing gesang ingkang mboten ngremenaken. Getun lan keduwung damel peperangan ing batinipun.

    Read More
  • Puisi

    Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi

    Kumpulan Puisi karya kolaborasi seorang petani dan karyawan koperasi.

    Petani dan karyawan koperasi bergelut dengan pekerjaan harian riil.

    Read More
  • Teologi

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender dari Perspektif Gereja

    Laki-laki dan perempuan diciptakan secitra dengan Allah dan memiliki martabat yang sama.

    Read More

Perbedaan Gender Masyarakat Priayi Jawa

Perbedaan Gender Masyarakat Priayi Jawa dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane

Spesifikasi

Kode:320010
Judul:Perbedaan Gender Masyarakat Priayi Jawa dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane
Penulis:Elisabet Sri Hartati
Tahun Terbit:2025
ISBN:-
eISBN:-
ISBN PDF:-
Tebal:160 (viii+152) halaman
Harga:Rp75.000

Deskripsi

Dekonstruksi Belenggu Patriarki – Telaah Sosiologis, Konflik Eksistensial, dan Politisasi Gender Priayi Jawa

Buku "Perbedaan Gender Masyarakat Priayi Jawa dalam Novel Belenggu Karya Armijn Pane" merupakan sebuah karya kajian sastra dan budaya setebal 159 halaman yang membedah anatomi ketimpangan jender secara tajam, akademis, dan membumi. Ditulis oleh Elisabet Sri Hartati pada tahun 2025, buku ini mengggunakan pendekatan sosiologi sastra dan analisis struktural kualitatif untuk membongkar bagaimana karya monumental Pujangga Baru, Belenggu, bertindak sebagai cermin retak yang memantulkan benturan hebat antara nilai tradisi etika Jawa dan tuntutan modernitas Barat. Penulis menawarkan sebuah pencerahan harian yang krusial bagi pembaca modern: bahwa bias dan subordinasi jender bukanlah fenomena kodrati yang berdiri sendiri, melainkan sebuah konstruksi sosial-kultural yang dirawat secara rapi oleh sistem nilai patriarki yang telah berlangsung lama.

Mosaik Intertekstualitas, Anatomi Stereotip, dan Dialektika Pemberontakan Tokoh:

1. Genealogi Sastra, Pendekatan Sosiologis, dan Relasi Intertekstual:
Pada bab-bab awal, Elisabet Sri Hartati secara sportif memetakan dinamika penerimaan novel Belenggu di panggung literasi Nusantara—mulai dari sejarah penolakan keras oleh Balai Pustaka hingga tanggapan positif dari para kritikus modern. Buku ini secara cerdas mengulas hubungan intertekstualitas Belenggu dengan novel pendahulunya seperti Siti Nurbaya dan Layar Terkembang. Melalui pisau analisis sosiologi sastra, penulis membuktikan bahwa ruang domestik dan ruang publik dalam novel tidak sekadar berfungsi sebagai latar fiksi harian, melainkan representasi nyata dari kegelisahan eksistensial masyarakat priayi Jawa pada masa transisi kemerdekaan.

2. Konstruksi Etika Jawa, Ajaran Moral Wanita, dan Hegemoni Priayi:
Daya pikat teoretis yang menonjol dari buku ini terletak pada keberhasilannya membedah konsep jender dalam strata sosial priayi Jawa. Penulis melacak bagaimana perbedaan biologis (jenis kelamin) dipolitisasi secara kultural melalui ajaran moral wanita Jawa dan etika keselarasan harian. Stratifikasi ini melahirkan pembagian peran, identitas, hingga stereotip jender yang timpang. Laki-laki priayi dikonstruksikan sebagai poros otoritas, rasionalitas, dan penguasa ruang publik, sementara perempuan dirededuksi dalam batasan domestik sebagai simbol kelembutan yang pasif, patuh, dan sarat akan pembatasan ruang gerak eksistensial.

3. Analisis Struktural Tokoh, Dinamika Psikologis, dan Gugatan Emansipasi:
Inti dari kajian ini bergerak lincah menembus psikologi para tokoh dalam novel. Elisabet secara mendalam menganalisis pertarungan watak antara tokoh yang setia jender dengan figur radikal seperti Tini dan Tati yang bertindak sebagai tokoh pemberontak. Melalui pelacakan alur sebab-akibat, buku ini memotret reaksi serta resistensi tokoh lain terhadap gugatan emansipasi yang dibawa oleh Tini. Pembaca disuguhkan pencerahan batin yang berbobot mengenai motivasi penghayatan jender, sosialisasi konsep budaya, hingga manifestasi ketidakadilan jender yang memicu konflik batin berkepanjangan di antara para tokoh utama.

Kesimpulan: Kontribusi Penting bagi Kajian Jender dan Sastra Kontemporer
Pada akhirnya, buku "Perbedaan Gender Masyarakat Priayi Jawa dalam Novel Belenggu" berhasil membuktikan bahwa karya sastra klasik selalu relevan untuk menginterogasi realitas sosial masa kini. Formula bahasa yang digunakan dalam buku ilmiah ini dikemas secara lugas, mengalir lancar, mudah dicerna oleh akademisi maupun pencinta buku umum, tetapi tetap mempertahankan rigiditas metodologis yang tinggi tanpa harus terjebak dalam jargon teori yang rumit.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan dan hangat, memberikan ruang kontemplasi yang berharga di sela aktivitas harian. Sangat direkomendasikan bagi dosen, peneliti, mahasiswa sastra, sosiologi, kajian jender, guru bahasa, serta siapa saja yang tertarik memahami akar historis ketimpangan peran laki-laki dan perempuan di Indonesia demi mewujudkan tatanan sosial yang lebih adil dan inklusif.


Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Pendahuluan: Mengapa Menganalisis Perbedaan Gender dalam Novel Belenggu? .... 1
  • Tinjauan Pustaka Novel Belenggu .... 7
  • Penolakan terhadap Novel Belenggu .... 7
  • Tanggapan Positif terhadap Novel Belenggu .... 8
  • Latar Belakang Munculnya Novel Belenggu .... 9
  • Hubungan Intertektualitas Belenggu, Siti Nurbaya, dan Layar Terkembang .... 11
  • Pendekatan Sosiologis dan Analisis Struktural Karya Sastra .... 15
  • Relevansi Pendekatan Sosiologis terhadap Telaah Karya Sastra .... 16
  • Sosiologi Sastra .... 18
  • Pemilihan Metode Kualitatif .... 20
  • Analisis Struktural .... 21
  • Tahapan Kajian .... 23
  • Konsep Gender di Masyarakat Jawa .... 24
  • Konsep Gender .... 24
  • Perbedaan Konsep Jenis Kelamin dan Konsep Gender .... 24
  • Terbentuknya Perbedaan Gender .... 26
  • Arti Penting Gender .... 30
  • Stereotip Gender .... 31
  • Pembedaan Gender dalam Masyarakat Jawa .... 32
  • Etika Jawa .... 33
  • Ajaran Moral Wanita Jawa .... 35
  • Masyarakat Priayi Jawa .... 37
  • Perbedaan Kedudukan Laki-Laki dan Perempuan serta Perbedaan Gender dalam Masyarakat Priayi Jawa .... 39
  • Analisis Struktural Novel Belenggu .... 46
  • Alur .... 46
  • Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Belenggu .... 48
  • Hubungan Sebab-Akibat Antarperistiwa .... 55
  • Latar .... 70
  • Latar Tempat .... 71
  • Latar Waktu .... 72
  • Latar Sosial Budaya .... 74
  • Tokoh .... 77
  • Tokoh-Tokoh Perempuan .... 78
  • Tini .... 78
  • Rohayah .... 84
  • Tati .... 87
  • Rusdio .... 88
  • Tokoh-Tokoh Perempuan Lain .... 89
  • Tokoh Laki-Laki .... 91
  • Tono .... 91
  • Hartono .... 102
  • Mangunsucipto .... 102
  • Tokoh-Tokoh Laki-Laki Lain .... 103
  • Perbedaan Gender dalam Belenggu .... 105
  • Peran Gender Laki-Laki dan Perempuan .... 111
  • Peran Perempuan .... 111
  • Peran Laki-Laki .... 112
  • Identitas Gender .... 113
  • Identitas Perempuan .... 113
  • Identitas Laki-Laki .... 115
  • Stereotip Wanita dan Laki-Laki .... 115
  • Stereotip Perempuan .... 115
  • Stereotip Laki-Laki .... 119
  • Penghayatan Gender .... 121
  • Tokoh Setia Gender .... 122
  • Tini dan Tati: Dua Tokoh Pemberontak .... 124
  • Reaksi Tokoh-Tokoh Lain Terhadap Pemberontakan Tini .... 127
  • Motivasi Penghayatan .... 131
  • Perbedaan Gender dan Ketidakadilan Gender .... 133
  • Sosialisasi Konsep Gender .... 137
  • Kesimpulan .... 139
  • Struktur Novel Belenggu .... 139
  • Konsep Gender dalam Belenggu .... 141
  • Daftar Pustaka .... 143