|
|
Spesifikasi
| Kode | : | 210005 |
| Judul | : | 3 Alinea Kisah |
| Penulis | : | Luda Sofiah, Kartiyem, Ade Irma Verasari, Yerem B. Warat, Nurul Isnaini Febriarini, Swesti Amelia, Andahlia, Gusti Ayu Ketut Astiti, Laila Noor Malitasari, I Komang Mahendra, Nina Kardina, Suhartini, Hj. Zaenab, Jumhariati Nst, Alawiyah, Elis Nur Vita Sari, Novita Freshka Uktolseja, Bondan Rinawati, Ani Sumiani, Rini Daraini, Sudarwati, Nur Hidayati, Novie Anggriani, Wakidi Kirjo Karsinadi, Lina Herlina, Enny Suharti, Miftah Indy Nugroho, Iip Latipah, Nugraheni Nurhayati, Lodevika Endang Sulastri, Neneng Tuti Yuniarti |
| Tahun Terbit | : | 2023 |
| ISBN | : | 978-623-7421-60-3 |
| eISBN | : | - |
| ISBN PDF | : | 978-623-7421-61-0 |
| Tebal | : | 116 (x+106) halaman |
| Harga | : | Rp55.000 |
|
Deskripsi
3 Alinea Kisah – Merawat Jejak, Mewariskan Makna
Buku "3 Alinea Kisah" adalah sebuah simfoni kenangan yang ditulis oleh 31 penulis dari berbagai penjuru daerah. Melalui buku setebal 116 halaman ini, para penulis membuka ruang privasi mereka untuk berbagi momen-momen yang telah membentuk tiang kekuatan hidup mereka. Judul "3 Alinea Kisah" seolah mengisyaratkan bahwa setiap cerita, sesingkat apa pun ia dalam catatan sejarah, memiliki struktur yang utuh: awal mula yang membekas, pergulatan yang mendewasakan, dan hikmah yang menjadi warisan.
Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang yang hadir dalam hidup kita—baik itu orang tua, pasangan, anak, maupun orang asing—selalu meninggalkan jejak yang tak pernah benar-benar hilang. Sebagian jejak itu mungkin awalnya terasa menyakitkan, namun seiring berjalannya waktu dan refleksi yang mendalam, luka tersebut bermutasi menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi generasi mendatang.
Eksplorasi Tema dan Refleksi dalam Buku:
Figur Pahlawan dalam Keseharian:
Banyak kisah dalam buku ini yang didedikasikan untuk sosok orang tua. Melalui judul seperti "Pahlawan Sederhana Itu", "Warisan Ketekunan dan Keuletan", hingga sosok "Penjual Jajanan Pasar", pembaca diajak melihat bagaimana karakter seorang anak ditempa oleh keteladanan orang tua yang mungkin tampak biasa di mata dunia, namun luar biasa di mata keluarga. Ada penghormatan mendalam terhadap ayah dan ibu sebagai oase yang tidak pernah kering.
Dinamika Kasih dan Perjuangan Keluarga:
Kisah-kisah seperti "Pelajaran Ikhlas Dari Si Sulung", "Mondok dan Corona", hingga "Anak Perjuangan" memotret bagaimana sebuah keluarga menghadapi krisis dan perubahan zaman. Penulis membagikan momen-momen intim saat harus melepas, mendampingi, dan didampingi, yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan: kasih sayang adalah energi yang tak pernah berakhir (Never Ending Love).
Romantika dan Kehilangan yang Mendewasakan:
Buku ini juga menyentuh sisi emosional melalui narasi tentang cinta dan kehilangan. Dari kisah yang manis seperti "First Love Never Dies" hingga yang getir seperti "Matahariku Telah Terbenam" dan "Cintaku Kandas di Haluan", para penulis merefleksikan bagaimana cinta yang hilang atau abadi tetap memberikan pelajaran tentang cara mencintai dan melepaskan dengan martabat.
Peristiwa Istimewa sebagai Titik Balik:
Kejadian-kejadian yang tampak sepele namun bermakna, seperti "Salah Kostum" atau "Semalam di Cianjur", menunjukkan kejelian penulis dalam menangkap makna di balik peristiwa tak terduga. Ini membuktikan bahwa setiap fragmen waktu adalah guru yang berharga jika kita mau berhenti sejenak untuk merenung.
Kesimpulan: Menemukan Spiritualitas dalam Rajutan Memori
Puncak dari antologi "3 Alinea Kisah" terletak pada kemampuan para penulisnya dalam mengubah peristiwa masa lalu menjadi misi hidup yang penuh kesadaran. Melalui setiap alur cerita, pembaca diajak melakukan perjalanan spiritual untuk memahami bahwa tidak ada kejadian yang sia-sia di bawah langit.
Spiritualitas dalam buku ini ditemukan bukan melalui doktrin yang kaku, melainkan melalui penghayatan akan kasih, kesabaran, dan keikhlasan. Para penulis telah sampai pada titik kesadaran bahwa mengabadikan kisah adalah wujud tanggung jawab moral bagi bangsa dan generasi penerus. Dengan menuliskan kenangan mereka, para penulis sedang menyusun "peta jalan" bagi pembaca agar lebih sabar dalam menilai setiap peristiwa hidup dalam rentang waktu yang lebih luas. Buku ini adalah pengingat bahwa kekayaan sejati manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki, melainkan pada makna yang ia petik dari setiap perjumpaan dan peristiwa yang telah ia lalui. Sebuah bacaan yang hangat, membumi, dan sangat menguatkan jiwa.