• Demistifikasi

    Frater Keluar Karena Cewek?

    Bedah terbuka formasi seminari, pemurnian panggilan, dan stigma mantan frater.

    Menguliti realitas di balik tembok biara, menepis stigma miring lewat kejujuran ziarah batin, dan menemukan spiritualitas layan tanpa jubah.

    Read More
  • Katarsis

    Antologi Puisi Terpaan

    Eksperimen struktur puisi cinquain dan potret ketangguhan menghadapi krisis.

    Ditulis oleh 11 pendidik, merajut keunikan puisi lima baris Barat, satire sosial urban, hingga empati kaum marginal.

    Read More
  • Humaniora

    Puisi Wajah-Wajah Berjasa

    Mosaik kehidupan pejuang akar rumput, kritik sosial, dan rima.

    Merekam visual realitas kemanusiaan kaum marjinal, personifikasi benda, satire politik, serta menyajikan panduan teknik kepenulisan persajakan yang matang.

    Read More
  • Kesetaraan

    Kesetaraan Gender dari Perspektif Gereja

    Panduan teologis mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

    Membedah bias patriarki melalui landasan Kitab Suci untuk membangun kemitraan setara dalam keluarga dan pelayanan.

    Read More

Ruang Kita

Ruang Kita, Kumpulan Puisi Ludovika Syamsudin

Spesifikasi

Kode: 120063
Judul: Ruang Kita, Kumpulan Puisi Ludovika Syamsudin
Penulis: Lodevika Endang Sulastri
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-623-7421-69-6
eISBN: 978-623-7421-70-2
ISBN PDF: -
Tebal: 174 (x+164) halaman
Harga: Rp80.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Deskripsi

Ruang Kita – Rumah Bagi Gejolak Rasa dan Keheningan Jiwa

Ilustrator: Agatha Viona Wirantara, Sabina Michaela Nyka Narwastu Harsono Putri

Buku "Ruang Kita, Kumpulan Puisi Ludovika Syamsudin" merupakan sebuah antologi puitis setebal 174 halaman yang ditulis dengan kejujuran batin yang luar biasa oleh Lodevika Endang Sulastri. Menggunakan nama pena Ludovika Syamsudin, penulis membuka sebuah "ruang personal" yang intim, mengajak pembaca ikut melangkah dalam ziarah hidupnya sebagai seorang penghayat selibater awam. Terinspirasi oleh semangat spiritualitas Hati Kudus Yesus, buku ini menjelma menjadi sebuah ruang perjumpaan universal tempat bertemunya jatuh bangun kehidupan manusia, ketegangan antara hasrat dan kesadaran diri, serta pencarian damai di tengah hiruk-pikuk dunia.

Menjelajahi Lorong Waktu, Kenangan, dan Kedewasaan Batin:

Pertarungan Rasa dan Bayang Masa Lalu:
Melalui puisi-puisi pembuka seperti "Pertarungan", "Yang Menancapkan Belati", dan "Melepas Kenangan", penulis tidak ragu untuk membuka luka dan pergumulan batinnya secara sportif. Buku ini memotret relasi masa lalu yang sesekali masih datang membayangi, menciptakan sebuah ketegangan manusiawi yang sangat jujur. Penulis menunjukkan bahwa memilih jalan hidup yang sunyi bukan berarti kehilangan rasa, melainkan sebuah proses disiplin untuk menata kembali serpihan hati yang pernah patah.

Dinamika Keseharian dan Refleksi Midlife:
Antologi ini terasa sangat membumi karena tidak hanya bicara tentang hal-hal yang mengawang-awang. Lewat bait-bait seperti "Kopi Pagi Menghangat", "Duduk di Kursi Reot", dan "Menuju Midlife", Ludovika menangkap momen-momen sederhana sehari-hari menjadi sesuatu yang sangat bermakna. Ada refleksi tentang usia yang mulai menua, dinamika dunia kerja yang melelahkan, hingga cara-cara sederhana untuk menertawakan sekaligus menerima kerapuhan diri sendiri dengan hati yang lapang.

Menemukan Cahaya dalam Keheningan:
Di balik sunyi dan sepinya jalan yang dipilih, selalu ada ruang bagi harapan yang membara. Puisi-puisi seperti "Masih Ada Api", "Wahai Cahaya", dan "Ruang Kita" menjadi bukti keteguhan tekad penulis. Kesunyian tidak lagi menakutkan, melainkan diubah menjadi sahabat yang hangat tempat ia bisa mendengarkan bisikan semesta, memulihkan energi, dan merasakan kehadiran dekapan ilahi yang setia menemani di setiap ujung senja.

Kesimpulan: Catatan Perjalanan Menemukan Damai di Dalam Diri
Puncak dari buku "Ruang Kita" adalah sebuah pesan hangat tentang pentingnya berdamai dengan diri sendiri dan segala jalan cerita yang telah digariskan. Melalui rangkaian kata yang mengalir indah, Ludovika Syamsudin berhasil membuktikan bahwa setiap manusia membutuhkan sebuah "ruang kecil" di dalam hatinya untuk beristirahat, merenung, dan membasuh segala lelah.

Buku ini bukan sekadar kumpulan bait puitis yang rumit, melainkan sebuah pelukan hangat bagi siapa saja—baik mereka yang hidup berkeluarga maupun yang memilih jalan sunyi—yang sedang berjuang menavigasi emosi dan mencari makna di tengah pasang surutnya kehidupan. Sebuah karya yang menyegarkan, menguatkan, dan sangat layak untuk dinikmati di tengah waktu santai bersama secangkir kopi hangat.

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Daftar Isi .... vii
  • Pertarungan .... 1
  • Yang Menancapkan belati .... 2
  • Mendaki di Jalan Salib .... 4
  • Sepiku ... .... 6
  • Tunggulah Sejenak .... 7
  • Kami Yang Merdeka .... 8
  • Berbagi Cerita .... 11
  • Masih Ada Api .... 12
  • Tugas Suci .... 13
  • Pagi di Bulan Rosario .... 14
  • Menyambut nuansa baru .... 16
  • Mereka anak bangsa ... .... 17
  • Hidupku di Tangan-Mu .... 19
  • Bapa Kami .... 20
  • Ketika ku tak bisa berkata .... 22
  • Kecupan Kematian .... 24
  • Pater Dehon .... 26
  • Waktunya Telah Tiba .... 27
  • Sunyiku datang .... 28
  • Aku Hadir untuk Cinta-Mu .... 30
  • Kabar Sukacita .... 32
  • Haruskah Aku .... 34
  • Dalam senyapku ... .... 37
  • Dalam senja cerah ... .... 38
  • Dunia Baru .... 40
  • Tamuku senjaku ... .... 42
  • Kutulis Sebaris Mantra Untukmu .... 43
  • Ruh yang bercerita .... 44
  • Heningku ... .... 45
  • Masih Ada Ruang .... 46
  • Menuju Midlife .... 49
  • Sebaris Cinta di Ujung Senja .... 50
  • Melepas kenangan .... 51
  • Di Akhir Misi .... 52
  • Segenggam Harapan .... 53
  • Derap Merdeka Bangsaku .... 54
  • Sampai kapan .... 56
  • Bilur-Mu ... Tuhan .... 58
  • Waktuku sudah dekat .... 61
  • Wahai Cahaya ... .... 62
  • Bertaut dalam doa .... 64
  • Wajah Bundaku.... .... 65
  • Duduk di Kursi Reot ... .... 66
  • Putih Melati ... .... 67
  • Cinta bagaikan maut .... 68
  • Kopi Pagi Menghangat .... 70
  • Jiwanya Tak Kupunya Lagi .... 72
  • Kilas balik .... 74
  • Di sepertiga malam ... .... 75
  • Menanti Dalam Sunyi... .... 76
  • Kopiku tak lagi nikmat ... .... 78
  • Pergilah ... .... 80
  • Hujan Mencurahkan Airnya .... 83
  • Cinta tak kembali ... .... 84
  • Memburu Cinta ... .... 86
  • Menyapa Hening yang Datang .... 87
  • Ketika Malaikat Kerubin Menyapa ... .... 88
  • Tetamu Mudaku .... 90
  • Cinta Bagaikan Maut ... .... 92
  • Katakan Sepatah Kata Saja ... .... 93
  • Bertemu nanti .... 94
  • Sendiri .... 96
  • Pulanglah dalam Damai-Nya .... 98
  • Aku Ingin Bercerita .... 99
  • Boleh kupinjam Ruh-Mu .... 100
  • Meniti harapan Baru .... 102
  • Senja sehabis hujan .... 104
  • Aku Terbangun dari Mimpi ... .... 106
  • Roti Surga .... 108
  • Pulang .... 110
  • Sesaat tertegun .... 111
  • Duduk dalam Heningku .... 112
  • Siang Mendung Bercerita .... 114
  • Mulut Seorang Pengkhianat .... 116
  • Senja terketuk pintu .... 117
  • Wahai semesta .... 118
  • Menutup Pintu Hatiku .... 121
  • Teruslah Berjalan .... 122
  • Mari kugandeng dik .... 124
  • Satu Waktu .... 126
  • Aku melihatmu .... 128
  • Pintaku Pada Maha Dewa .... 129
  • Dalam doa kita .... 130
  • Hening merasuk .... 132
  • Engkau setia .... 134
  • Mohon Berkat-Mu .... 136
  • Bertemu nanti .... 138
  • Sabtu Malam .... 139
  • Bisikan Semesta .... 140
  • Pagi menjelang .... 142
  • Kehilangan Rasa Rindu .... 143
  • Aku Masih Menantimu .... 144
  • Secangkir kopiku .... 146
  • Kulepaskan .... 147
  • Di Manakah Dikau Satria .... 148
  • Di manakah gerangan satria Jiwa .... 149
  • Kasih Setia .... 151
  • Kekasih sudah kembali .... 152
  • Dalam Sunyi .... 153
  • Enggan beranjak .... 154
  • Ruang kita .... 155
  • Syukur Atas Rahmat .... 156
  • Hati berdenyut .... 158
  • Tentang Penulis .... 159
  • Tentang Ilustrator .... 162

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !