• Terbaru

    3 Alinea Kisah

    Kisah nyata mengenai cinta, ayah, ibu, anak, ulang tahun dalam 3 alinea.

    Sebagian besar mungkin sekilas tampak sederhana dan biasa saja, tetapi menjadi begitu bermakna dan kaya setelah terolah oleh pergulatan hidup dan refleksi bersama waktu.

    Read More
  • Novel

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa

    Sekar Ratri: Novel Basa Jawa karya R.N.D Krisnawati

    Pengajeng-ajeng gesang tentrem ing bebrayan, kanyata mas Sutrisno nyimpen sejarahing gesang ingkang mboten ngremenaken. Getun lan keduwung damel peperangan ing batinipun.

    Read More
  • Puisi

    Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi

    Kumpulan Puisi karya kolaborasi seorang petani dan karyawan koperasi.

    Petani dan karyawan koperasi bergelut dengan pekerjaan harian riil.

    Read More
  • Teologi

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender

    Mewujudkan Keadilan & Kesetaraan Gender dari Perspektif Gereja

    Laki-laki dan perempuan diciptakan secitra dengan Allah dan memiliki martabat yang sama.

    Read More

Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi

Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi: Kumpulan Puisi Forum Penulis Kemenag Aceh Timur

Spesifikasi

Kode:120045
Judul:Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi: Kumpulan Puisi Forum Penulis Kemenag Aceh Timur
Penulis:Agussalim, Dinar Puspita Ayu, Dwi Ermayanti, Evi Susilawati, Herdiansah, Ita Khairani, M. Iwan Kurniawan, Miftahul Jannah, Nuraini, Putriana, Retno Purwaningsih, Sitti Rahmah, Syarifuddin S. Malem, Yuliati, Zully Hijah Yanti AD
Tahun Terbit:2020
ISBN:978-623-7421-33-7
eISBN:-
ISBN PDF:-
Tebal:202 (xvi+186) halaman
Harga:Rp60.000

Deskripsi

Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi – Rekaman Jiwa, Ketangguhan Pendidik, dan Memoar Kemanusiaan

Buku "Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi: Kumpulan Puisi Forum Penulis Kemenag Aceh Timur" merupakan sebuah karya sastra monumental setebal 202 halaman yang menandai kelahiran perdana Forum Penulis Kemenag Aceh Timur (FPeKAT). Komunitas yang dibentuk pada Juni 2019 ini meyakini bahwa memilih jalan menulis berarti memilih untuk merekam perjalanan jiwa secara lengkap sekaligus menyentuh batin orang lain. Mengambil latar waktu saat krisis kesehatan global melanda dunia, antologi ini menjadi sebuah dokumen sosial yang sangat berharga; merangkum jeritan, harapan, serta pergulatan batin lima belas pendidik dalam menavigasi tugas mulia mereka di tengah keterbatasan ruang dan jarak.

Mosaik Perjuangan Guru, Tragedi Kemanusiaan, dan Harapan di Tanah Serambi:

1. Dilema Pengajaran dan Evolusi Ruang Kelas:
Sebagai para abdi negara yang bergerak di garis depan pendidikan, para penulis secara sportif merekam betapa gamangnya dunia persekolahan saat tatap muka mendadak dilarang. Lewat puisi-puisi seperti "Kisah Luka Pengajar", "Evolusi Kelas", "Curhat Siswaku", hingga "Belajar Daring", pembaca diajak mengintip ruang-ruang sunyi para guru yang berjuang mengajar via layar ponsel. Rasa rindu yang membuncah terhadap riuhnya suasana madrasah dan kehadiran para murid digarap dengan diksi yang sangat membumi, memotret harian perjuangan literasi yang penuh air mata tetapi tetap bertahan demi masa depan anak bangsa.

2. Penghormatan Kepada Pahlawan Akar Rumput dan Kritik Zaman:
Radar humaniora para penulis di dalam buku ini tidak hanya berhenti di dalam batas ruang kelas virtual. Mereka memperluas sudut pandang dengan memberikan penghormatan emosional kepada para pejuang kemanusiaan di garda depan. Puisi reflektif seperti "Kepada Dokter dan Seluruh Tenaga Medis yang Gugur", "Pahlawan Tanpa Suara", hingga potret sunyi "Penggali Makam" memperlihatkan kepekaan sosial yang sangat tinggi. Para penulis juga menangkap paradoks sosial masyarakat lewat bait-bait satir tentang "Masker yang Hilang" atau tuntutan "Internet Gratis", menjadikannya sebuah kritik harian yang jujur atas realitas yang terjadi di lapangan.

3. Spiritualitas yang Teguh dan Doa Kesembuhan Bumi:
Kekuatan utama yang melandasi antologi dari Bumi Serambi Mekkah ini adalah keteguhan spiritualitasnya yang sangat kental. Di balik kepasrahan atas takdir dan rasa sesak yang melanda, muncul optimisme iman yang kuat bahwa badai pasti akan berlalu. Melalui untaian bait puitis seperti "Kun Fa Yakụn", "Janji Sepertiga Malam", dan "Rencana Allah", para pendidik ini menawarkan jalan pulang yang meneduhkan. Mereka mengingatkan pembaca bahwa pandemi tidak selalu membawa cerita suram, melainkan sebuah jeda besar bagi manusia untuk mawas diri, mempertebal sabar, dan kembali bersujud memohon ketenangan jiwa.

Kesimpulan: Suatu Monumen Literasi yang Menggugah Empati
Pada akhirnya, "Setangkup Puisi Pandemi Bumi Serambi" berhasil membuktikan bahwa puisi adalah media katarsis yang sangat kuat untuk mengabadikan sejarah kemanusiaan. Sinergi dari lima belas isi kepala yang berbeda ini menghasilkan sebuah simfoni kata yang tidak sekadar indah dibaca, melainkan mampu menggetarkan empati siapapun yang menikmatinya.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat ringan, mengalir lancar, sekaligus kaya akan nilai-nilai kehidupan yang membumi. Kumpulan puisi ini sangat cocok dijadikan referensi sejarah lokal, koleksi perpustakaan sekolah, serta teman kontemplasi harian yang mengingatkan kita semua akan arti sebuah ketangguhan, kebersamaan, dan harapan yang tidak boleh mati di tengah badai kehidupan.


Daftar Isi

  • Kata Pengantar oleh H. Syarifuddin S. Malem, S.Pd.I, Ketua Forum Penulis Kemenag Aceh Timur (FPeKAT) .... v
  • Prolog oleh H. Salman, S.Pd. M,Ag, Ka. Kemenag Aceh Timur .... vii
  • Daftar Kontributor .... x
  • Daftar Isi .... xi
  • Agussalim, S.Pd.I. .... 1
  • Duka Corona .... 2
  • Peringatan .... 3
  • Virus Dahsyat .... 4
  • Karenamu Corona .... 5
  • Rindu .... 6
  • Kenangan .... 7
  • Sejak Engkau Datang .... 8
  • Senjata Tak Berpeluru .... 9
  • Selamat Jalan .... 10
  • Terima Kasih .... 11
  • Dinar Puspita Ayu, S.Pd.I. .... 12
  • Si Mungil .... 13
  • Tak Kasatmata .... 14
  • Aku Tahu .... 15
  • Pendar Lara .... 16
  • Corona .... 17
  • Harap Kami .... 18
  • Pahlawan Tanpa Suara .... 20
  • Namaku Corona .... 22
  • NKCTHI .... 23
  • Karena Ilahi .... 24
  • Dwi Ermayanti, S.Pd. .... 25
  • Senja di Batas Kota .... 26
  • Lelaki di Ujung Jalan .... 27
  • Mereka yang Dirindukan .... 29
  • Goresan Angka .... 30
  • Senyuman yang Tak Luput .... 31
  • Tanah Serambi Mekkah .... 32
  • Kisah Luka Pengajar .... 33
  • Narasi Selamanya .... 34
  • Angka Mati .... 35
  • Suara Hati yang Berbisik .... 36
  • Evi Susilawati, S.Pd, M.Pd. .... 37
  • Curhat Siswaku .... 38
  • Pandemi .... 40
  • Dadaku Sesak .... 42
  • Kak Nun .... 43
  • Belajar Kami Masa Pandemi .... 44
  • Lockdown Berujung Bahagia .... 45
  • Ibu .... 46
  • Kecewa .... 48
  • Mengalah .... 49
  • Hujan Hari Ini .... 50
  • Herdiansah, S.Pd., Gr. .... 51
  • Tak Kentara, Tak Kasatmata .... 52
  • Bukan Tatap Muka .... 53
  • Kusebut Kau Kenangan .... 54
  • Segeralah Berlalu .... 55
  • Pandemi .... 56
  • Doa dan Harapan .... 57
  • Pandemi Corona .... 58
  • Membaca Tanda .... 59
  • Serba Sedikit .... 60
  • Rinduku Sendu .... 61
  • Ita Khairani, S.Pd.I., M.Pd. .... 62
  • Makhluk Kecil Itu .... 63
  • Dialektika Masa .... 64
  • Corona .... 66
  • Pandemi .... 66
  • Lelah .... 67
  • Perjuangan .... 69
  • Resah .... 70
  • Terluka .... 71
  • Perihnya Penantian .... 73
  • Hampa .... 75
  • Miftahul Jannah, S.Pd. .... 76
  • Bak Bala Tentara .... 77
  • Kejam .... 78
  • Lamunan Cinta .... 79
  • Kini Kumengerti .... 81
  • Pengecut .... 82
  • Pergilah .... 83
  • Rindukan Kasih .... 84
  • Sulit ‘Tuk Dimengerti .... 85
  • Ukiran Luka Cinta .... 86
  • Virus Corona .... 87
  • M. Iwan Kurniawan, S.Pd. .... 88
  • Potret Bumi .... 89
  • Reuni Kematian .... 91
  • Evolusi Kelas .... 93
  • Mendobrak Tanggung Jawab .... 95
  • Janji Sepertiga Malam .... 97
  • Selamat Datang di Kehidupan Normal Baru .... 99
  • Merdeka dari Bencana .... 100
  • Guru Tragedi .... 101
  • Wabah Pasti Berlalu .... 103
  • Guru dan Rindu .... 105
  • Nuraini. S.Ag. .... 106
  • Lockdown .... 107
  • Enyahlah dari Bumi Pertiwi .... 108
  • Rindu Sekolah .... 109
  • Madrasahku .... 110
  • Internet Gratis .... 111
  • Kun Fa Yak?n .... 112
  • Pahlawan Kemanusiaan .... 113
  • Rencana Allah .... 114
  • Covid-19 .... 115
  • Tak Selalu Suram .... 116
  • Putriana, S.Pd. .... 117
  • Bunda .... 118
  • Corona .... 119
  • Gelap Terbitlah Terang .... 120
  • Buih di Dalam Kegelapan .... 121
  • Bisikan Kehidupan .... 123
  • Pahlawan Tanpa Tanda Jasa .... 124
  • Kabut Duka Menghilang .... 125
  • Perjalanan Masa .... 126
  • Tempias Lara .... 127
  • Di Balik Senja yang Menghilang .... 128
  • Retno Purwaningsih, S.Pd., Gr. .... 129
  • Malam Lebaran .... 130
  • Warita Kerinduan Widyaiswara .... 131
  • Ingin Pulang .... 132
  • Kepada Dokter dan Seluruh Tenaga Medis yang Gugur .... 133
  • Kepada Tuan .... 134
  • Renjana Temu .... 135
  • Penggali Makam .... 136
  • Lokawigna .... 137
  • Petani di Masa Pandemi .... 138
  • Covid Musnah .... 139
  • Sitti Rahmah, S.Pd.I. .... 140
  • Kenapa Kau Hadir .... 141
  • Pergilah Corona .... 142
  • Mengapa Kau Datang .... 143
  • Aku Cinta Profesiku .... 144
  • Hati yang Sepi .... 145
  • Masker yang Hilang .... 146
  • Dulu Tidak Biasa Jadi Kebiasaan .... 147
  • Pantang Menyerah .... 148
  • Rindu Kedamaian .... 149
  • Rindu Muridku .... 150
  • Syarifuddin S. Malem, S.Pd.I. .... 151
  • Aku Takut .... 152
  • Di Balik Masker Biru .... 153
  • Cukup Hari Ini Saja .... 154
  • Sabar dan Doa .... 155
  • Virus Corona, Pergilah .... 156
  • Medan .... 157
  • Muhammad Telah Menuntunmu .... 158
  • Pulang .... 159
  • Cita-citaku Retak .... 160
  • Silaturahmi Masa Pandemi .... 161
  • Yuliati .... 162
  • Memahami .... 163
  • Terkekang .... 164
  • Kembalilah .... 165
  • Semua Berubah .... 166
  • Kau Tak Dinanti .... 167
  • Waspada .... 168
  • Kami Rindu .... 169
  • Tak Seperti Biasa .... 170
  • Perjuangan .... 171
  • Hati yang Risau .... 172
  • Zully Hijah Yanti AD, S.Pd., Gr. .... 173
  • Abad Sunyi .... 174
  • Aku Menemuimu di Layar Ponsel .... 175
  • Menjaga Jarak .... 176
  • Mengusir Demam .... 177
  • Di Ruang ICU .... 178
  • Seperti Berhenti .... 179
  • Tentang Waktu .... 180
  • Penggali Kubur .... 181
  • Belajar Daring .... 183
  • Buat Madah Kelana: Anakku .... 185