|
|
Spesifikasi
| Kode | : | 120044 |
| Judul | : | Dalam Dekap Santo Fransiskus: Kumpulan Puisi Guru SMP Maria Mediatrix |
| Penulis | : | Agnes Endah Priyastuti, Antonius Ady Siaga, Antonius Yandiatmoko, Astuti Tarigan, Benedicta Budi Krismastuti, Benediktus Wawan Istiawan, Damar Yogananta, Danis Setya, Krisantus Ardy Barata, Kristian Purwoatmojo, M.V. Djujandari, Maria Anna D.Tj., Maria Lucia Ervina, R. Wiryatmoko, Rohmadi, Rosari Niken Palupi, Rr. Kusdihantari, Sumartini, Taufan Febrianto, V. Rusmala Murti, V.S. Ariyanto |
| Tahun Terbit | : | 2020 |
| ISBN | : | 978-623-7421-32-0 |
| eISBN | : | - |
| ISBN PDF | : | - |
| Tebal | : | 104 (viii+96) halaman |
| Harga | : | Rp40.000 |
|
Deskripsi
Dalam Dekap Santo Fransiskus – Kidung Pengharapan dari Ruang Kelas yang Sunyi
Buku "Dalam Dekap Santo Fransiskus" adalah sebuah antologi puisi yang lahir dari rahim keresahan sekaligus keteguhan hati para guru SMP Maria Mediatrix Semarang. Di balik kaku dan padatnya tumpukan administrasi, persiapan media pembelajaran, serta hiruk-pikuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), 21 pendidik ini berhasil meluangkan waktu untuk melakukan "revolusi rasa". Di tengah kelelahan menatap layar komputer dan berjibaku dengan teknologi pembelajaran jarak jauh di masa pandemi, mereka memilih untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan menuangkan seluruh kegundahan mereka ke dalam bait-bait yang menyentuh jiwa.
Eksplorasi Rasa, Pandemi, dan Spiritualitas Fransiskan:
Katarsis di Tengah Kesibukan Virtual:
Buku ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah bentuk kelegaan emosional. Penulis menggambarkan bagaimana para guru, yang biasanya dikenal dengan kedisiplinan dan ketegasan, ternyata memiliki sisi lembut yang penuh makna. Puisi-puisi seperti "Melodi Dawai Rasa Virtual" dan "Di Bawah Bayang-bayang Corona" menjadi saksi bisu betapa teknologi takkan pernah bisa menggantikan kehangatan perjumpaan fisik. Melalui antologi ini, mereka mengurai benang kusut kejenuhan daring menjadi tenunan kata yang menguatkan.
Mendekap Spiritualitas Santo Fransiskus:
Judul buku ini mencerminkan kerinduan akan perlindungan dan kedamaian. Sebagaimana Santo Fransiskus Asisi mencintai alam dan sesama dengan penuh kesederhanaan, puisi-puisi di dalamnya—seperti "Sahaja" dan "Kebaikan Tuhan"—mengajak pembaca untuk kembali ke titik nol, menghargai hal-hal kecil yang sering terlupakan. "Dekapan" dalam konteks ini adalah simbol penyerahan diri dan ketenangan di tengah badai dunia yang tak menentu.
Warna-warni Kehidupan Pendidik:
Antologi ini menampilkan spektrum emosi yang luas. Ada rindu yang mendalam kepada anak didik ("Anak-anak Masa Depan"), penghormatan setinggi langit kepada orang tua ("Surat untuk Ibu", "Untuk Ayah Bundaku"), hingga refleksi eksistensial tentang waktu dan perpisahan. Keberagaman gaya bahasa dari 21 penulis yang berbeda memberikan kekayaan tekstur pada buku ini, menjadikannya sebuah mosaik pengalaman manusiawi yang utuh.
Kesimpulan: Hadiah Cinta untuk Dunia Pendidikan
Puncak dari buku "Dalam Dekap Santo Fransiskus" adalah sebuah pembuktian bahwa misi hidup sebagai pendidik tidak hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi juga tentang merawat kemanusiaan melalui seni. Para guru SMP Maria Mediatrix Semarang menunjukkan bahwa di bawah tekanan situasi yang paling menyesakkan sekalipun, hasrat untuk mengolah kata dan rasa tidak boleh padam.
Spiritualitas yang ditawarkan dalam buku ini adalah spiritualitas yang jujur dan sportif dalam menerima keadaan, tetapi tetap memiliki nyali untuk terus bermimpi. Buku ini adalah persembahan kasih untuk memperingati Hari Guru Nasional, sebuah kado indah yang mengingatkan kita bahwa setiap guru adalah penyair bagi masa depan murid-muridnya. Bacaan ini sangat direkomendasikan bagi para praktisi pendidikan, pecinta sastra, dan siapa pun yang ingin merasakan denyut nadi perjuangan seorang guru di balik layar virtual yang dingin.