• Cerpen

    Sandal Jepit John Dalton

    Refleksi moralitas harian, pergulatan spiritual batin, metafora romantisme bersahaja.

    10 cerita pendek realis yang secara jujur memotret paradoks keseharian, integritas moral, hingga ketangguhan jiwa di tengah dinamika sosial.

    Read More
  • Rinai

    Rindu dalam Rinaimu

    Elegi rindu, dedikasi pengabdian guru, dan refleksi sosial-humaniora urban.

    Menyulap metafora rintik hujan menjadi simfoni batin, kritik lingkungan, dan ruang katarsis para pendidik.

    Read More
  • Senja

    Senja di Bukit Cinta

    Elegi lara, refleksi bencana nasional, dan geguritan tradisi Jawa.

    Merajut katarsis emosional atas duka kehidupan, kepasrahan batin, hingga pelestarian sastra kultural yang membumi.

    Read More
  • Cerpen

    Matahari di Ujung Jalan

    Potret humanis masyarakat marginal, resolusi konflik domestik, manifestasi fiksi edukatif.

    11 cerita pendek realis menangkap ketangguhan mental kaum akar rumput serta elegi ruang domestik lewat tutur bahasa yang ringan dan sarat empati.

    Read More

Sajak dari Honai

Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi

Spesifikasi

Kode: 120040
Judul: Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi
Penulis: Tobias Nggaruaka
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-623-7421-21-4
eISBN: -
ISBN PDF: -
Tebal: 78 (x+68) halaman
Harga: Rp40.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Deskripsi

Sajak dari Honai – Kidung Kemanusiaan, Potret Ekologis, dan Jendela Kearifan Lokal dari Indonesia Timur

Buku "Sajak dari Honai: Kumpulan Puisi" merupakan sebuah antologi puisi tunggal setebal 78 halaman yang menyajikan sebuah potret harian yang sangat jujur, mendalam, dan sarat akan emosi. Ditulis oleh Tobias Nggaruaka, karya monumental ini menghimpun 59 judul puisi yang bertindak sebagai cermin besar bagi realitas kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah timur Indonesia. Melalui metafora "Honai"—rumah adat Papua yang melambangkan kehangatan keluarga, tempat berkumpul, dan ruang musyawarah—penulis tidak sekadar merangkai diksi yang ritmis, melainkan sedang memahat nilai-nilai kehidupan serta media refleksi sosiologis yang tajam antara dirinya dengan para pembaca.

Mosaik Kerusakan Lingkungan, Kepekaan Sosial, dan Rekaman Sunyi Zaman:

1. Potret Humaniora dan Jeritan Hati Masyarakat Marginal:
Kekuatan utama dari antologi ini terletak pada keberanian penulis untuk memotret kehidupan masyarakat kecil secara sportif dan apa adanya. Melalui puisi-puisi yang sangat menyentuh rasa seperti "Potret Wajah Si Gadis Berkarung", "Petani Cilik", dan "Mutiara Hitam", Tobias membawa pembaca masuk ke dalam bilik-bilik kehidupan yang sering kali luput dari perhatian publik. Penulis merekam ketangguhan mental anak-anak dan kaum marginal dalam menghadapi kerasnya transisi peradaban di tengah deru "Revolusi Industri 4.0", menjadikannya sebuah dokumen kemanusiaan yang sangat berharga.

2. Kearifan Ekologis dan Romantisme Alam yang Terluka:
Sebagai seorang penyair yang peka terhadap lingkungan sekitar, Tobias mendedikasikan sebagian bait puisinya sebagai ruang kritik atas rusaknya ekosistem alam. Kehadiran latar lokalitas yang sangat kuat, seperti dalam puisi "Musamus" (rumah semut raksasa khas Merauke) dan "Sungai Iramunda", memberikan identitas budaya yang kental pada buku ini. Melalui judul-judul tersebut, penulis tidak hanya memuji keindahan tanah kelahirannya, melainkan juga meratapi "Berguguran Daun" serta kerapuhan alam akibat keserakahan manusia, sebuah ajakan harian untuk kembali menjaga kelestarian bumi tempat kita berpijak.

3. Catatan Krisis Global dan Spiritualitas yang Bersahaja:
Radar harian penulis juga merekam dengan sangat baik memori kolektif saat dunia dihantam badai krisis kesehatan global. Lewat puisi bertajuk "Covid itu Sangkar", "Masker Rajutan Ibu", hingga "Paskah yang Suram", pembaca diajak menyelami suasana batin yang sepi dan terisolasi. Namun, di tengah keterbatasan ruang gerak dan kepasrahan batin yang mendalam, memancar sebuah optimisme spiritual yang meneduhkan. Melalui bait "Tuhan Aku Tak Berdaya", penulis menawarkan jalan pulang yang bersahaja—sebuah kesadaran untuk melambat, bersujud, dan menemukan kembali kehangatan pelukan keluarga di dalam "Honai" kehidupan.

Kesimpulan: Prasasti Sastra yang Menggugah Kepedulian Sosial
Pada akhirnya, antologi "Sajak dari Honai" berhasil membuktikan bahwa sastra adalah salah satu media katarsis dan alat rekam sejarah yang paling abadi. Rangkaian kata yang disajikan oleh Tobias Nggaruaka mengalir dengan sangat lancar, ringan dibaca, namun memiliki daya dobrak yang kuat untuk menggugah empati siapa saja yang menikmatinya.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan dan kaya akan pesan moral yang membumi. Sangat direkomendasikan bagi para pelajar, pengajar, pemerhati sosial-budaya, serta pencinta literasi Nusantara yang merindukan suara-suara jujur dari balik bilik Honai, yang mengajarkan kita semua tentang arti ketangguhan, cinta kasih, dan kebersamaan di tengah badai kehidupan.

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Halaman Persembahan .... vii
  • Daftar Isi .... ix
  • Mama (1) .... 1
  • Mama (2) .... 2
  • Sang Bapak .... 4
  • Berseri di Wajahmu .... 6
  • Berutang .... 7
  • Tertata Rapi .... 9
  • Tetesan Air Mata .... 10
  • Berdandan Masa Kini .... 11
  • Musamus .... 12
  • Potret Wajah Si Gadis Berkarung (1) .... 13
  • Potret Wajah Si Gadis Berkarung (2) .... 14
  • Hening .... 15
  • Sungai Iramunda .... 17
  • Menatap .... 18
  • Revolusi Industri 4.0 .... 19
  • Renungan .... 20
  • Menafsir .... 21
  • Menatap .... 22
  • Bayangan .... 23
  • Hening .... 24
  • Cahaya Pagi .... 25
  • Awali Hidup .... 26
  • Mimpi Kita .... 27
  • Cahaya Mentari .... 29
  • Aku Ingin Mengukir .... 30
  • Sepotong Perjalanan .... 31
  • Mutiara Hitam .... 32
  • Kita Harus Memulai .... 33
  • Hampa Hidupku .... 35
  • Berguguran Daun .... 36
  • Berdiam Seribu Bahasa .... 37
  • Janjimu .... 38
  • Untukmu Mama Joyce Lin .... 39
  • Tiada Lagi Keceriaan .... 40
  • Cinta Kita Bagi Mereka .... 41
  • Karakter Kini .... 42
  • Muslihat .... 43
  • Pusaran Ibu .... 44
  • Petani Cilik .... 45
  • Apa Doamu Untuk kami .... 46
  • Sendu Hati .... 47
  • Kokoh dan Kerapuhan .... 48
  • Runduk .... 49
  • Dengarkan Aku .... 50
  • Covid itu Sangkar .... 51
  • Waktumu Tiba Juga .... 52
  • Covid dan Kriminalitas .... 53
  • Jalan Ketiga .... 54
  • Tuhan Aku Tak Berdaya .... 55
  • Lansia .... 56
  • Covid dan Sepi .... 57
  • Elias yang Diam 51 .... 59
  • Cinta karena Butuh .... 60
  • Jalan Berduri .... 61
  • Jalan yang Sepi .... 62
  • Garda Depan .... 63
  • Masker Rajutan Ibu .... 64
  • Kelasku .... 65
  • Paskah yang Suram .... 66
  • Tentang Penulis .... 67

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku !