Deskripsi
Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi – Simfoni Dua Sahabat, Realitas Akar Rumput, dan Ziarah Kata
Buku "Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi: Kumpulan Puisi" merupakan sebuah antologi sastra setebal 84 halaman yang lahir dari sebuah ikatan persahabatan yang mendalam. Ditulis oleh Kosmas Lawa Bagho dan Yerem B. Warat, buku ini menjadi sebuah monumen literasi yang unik sekaligus langka dalam khazanah sastra tanah air. Keputusan kedua penulis untuk menerbitkan karya bersama didorong oleh kerinduan merayakan memori masa lalu saat masih menjadi teman kos. Meski kini mereka bergelut di ruang pengabdian dan bentang geografi yang berbeda, sekat-sekat tersebut meluruh dalam untaian bait puisi yang menyajikan potret kehidupan yang sangat jujur, membumi, dan bertenaga.
Mosaik Perenungan Dini Hari, Detak Koperasi, dan Kritik Sosial yang Tajam:
1. Suara Ladang dan Katarsis Sunyi di Sepertiga Malam:
Kontribusi puisi dari Yerem B. Warat membawa pembaca langsung ke jantung kehidupan seorang petani di Ladang Pintubesi. Sedari pagi hingga sore hari, rutinitas mencangkul dan merawat bumi diolah menjadi bahan permenungan yang mendalam. Uniknya, proses kreatif Yerem lahir dari sebuah perjuangan fisik yang luar biasa. Setiap pukul tiga dini hari, ia selalu terbangun oleh kondisi psoriasis yang menderanya selama dua dasawarsa. Di sela rasa sakit itulah, ia menumpahkan segala kegelisahan harian ke atas kertas. Objek-objek sederhana seperti yang tertuang dalam puisi "Abang Tukang Bakso", "Anjing Emas", "Sebulir Padi Buat Gereda", hingga fenomena alam diolah secara sportif menjadi refleksi ironis yang mencengangkan sekaligus mencerahkan batin.
2. Dialektika Angka, Gerakan Kemandirian, dan Nurani Koperasi:
Di sisi lain, Kosmas Lawa Bagho menghadirkan sudut pandang seorang anak petani yang kini aktif sebagai pengurus koperasi (Credit Union) sekaligus dosen. Sempat terjeda lama oleh kesibukannya menggeluti dunia angka dan brankas keuangan, Kosmas kembali pulang ke dunia kata untuk merekam pergumulan batinnya. Lewat puisi bertajuk "Credit Union", "Kantor", dan "Kisah Gadis Pejuang", ia memotret perjuangan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi. Gaya pencerahannya terasa sangat segar, membuktikan bahwa angka-angka akuntansi dapat berjalan beriringan dengan kelembutan rasa sebuah puisi.
3. Radar Kemanusiaan, Isu Kultural, dan Catatan Kebangsaan:
Kedua penyair yang sama-sama memilik latar belakang pendidikan seminari ini memiliki radar kritis yang sangat tajam terhadap kondisi bangsa. Mereka keluar dari ruang domestik untuk menyuarakan keprihatinan sosial-politik Indonesia secara apa adanya. Melalui judul-judul seperti "Remisi Korupsi", "Demokrasi", "Narkoba Masuk Flores", hingga "Pajero", mereka melontarkan sindiran yang menusuk sekaligus jujur atas ketidakadilan zaman. Sisi humaniora yang kental membuat setiap bait puisi di dalam buku ini bertindak sebagai suara hati para pelaku kehidupan itu sendiri.
Kesimpulan: Sumbangan Autentik Bagi Sastra Nusantara
Pada akhirnya, "Dari Ladang Pintubesi ke Brankas Koperasi" berhasil membuktikan bahwa puisi terbaik lahir dari rahim pengalaman hidup yang nyata. Kolaborasi apik antara seorang petani dan seorang aktivis koperasi ini menyajikan formula bahasa yang sangat ringan, mengalir lancar, tetapi memiliki kedalaman rasa yang luar biasa.
Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan di kala senja, menawarkan secangkir pencerahan harian bagi siapa saja yang ingin mengeja kembali arti ketangguhan, persahabatan, dan perjuangan hidup lewat bait-bait puisi yang bersahaja.