Deskripsi
Memandang Dia yang Tertikam – Butiran Kontemplasi dalam Ziarah Selibat
Buku "Memandang Dia yang Tertikam" merupakan sebuah antologi puisi yang lahir dari kedalaman refleksi seorang biarawati awam, Lodevika Endang Sulastri. Melalui buku setebal 108 halaman ini, penulis tidak hanya merangkai kata, tetapi menyajikan sebuah "biografi rohani" yang jujur mengenai perjalanan hidup selibatnya. Judul buku ini merujuk pada spiritualitas Kristosentris yang kuat—sebuah undangan untuk menatap sisi terbuka dari Hati Yesus yang tertikam, tempat segala rahmat dan penyembuhan bermula. Antologi ini memotret transformasi batin penulis, mulai dari masa-masa mencari benih panggilan hingga kematangannya dalam menjalani misi di tengah dunia yang dinamis.
Eksplorasi Perjalanan Hidup dalam Empat Babak Kontemplasi:
Akar dan Memori Keluarga:
Melalui bagian "Benih dan Akar", penulis membawa pembaca kembali ke rahim tempat panggilannya tumbuh. Puisi-puisi seperti "Terkenang Ayah" dan "Terkenang Bunda" menunjukkan bahwa hidup selibat tidak memotong akar kemanusiaan, melainkan memurnikannya. Memori masa kecil dan nostalgia keluarga dipandang sebagai tanah subur tempat Tuhan menanamkan benih kesetiaan yang kini ia hidupi.
Spiritualitas Hati di Rumah Cinta:
Dalam bagian "Di Rumah Cinta", pembaca diajak masuk ke dalam ruang doa pribadi penulis. Terinspirasi oleh teladan Pater Dehon dan Pater Albino Elegante (SCJ), puisi-puisi ini merefleksikan spiritualitas silih dan cinta yang tanpa batas. Penulis menggambarkan pergulatan batinnya layaknya "Perempuan Samaria" atau "Lilin yang Masih Menyala", sebuah simbol pengosongan diri untuk menjadi pelita bagi sesama di hadapan Sang Dewa Perkasa.
Karya Nyata dan Kerasulan yang Membumi:
Bagian "Turun Gunung" memperlihatkan sisi aktif dari hidup selibat. Puisi bukan sekadar pelarian metafisik, melainkan respons terhadap realitas sosial. Melalui semangat Xaverian dan inspirasi tokoh seperti Kartini, penulis menunjukkan bahwa hidup religius adalah hidup yang hadir dan terlibat. Di sini, selibat dimaknai sebagai kebebasan untuk mencintai dan melayani semua orang tanpa terkecuali.
Refleksi di Tengah Jeda Corona:
Hadirnya pandemi Covid-19 memberikan warna unik dalam buku ini melalui bagian "Jeda Corona". Penulis menangkap esensi "Paskah Sunyi" dan kerinduan manusiawi yang sederhana—mulai dari "Rindu Pempek Lenjer" hingga "Daun Kelor". Di tengah kecemasan global, puisi-puisinya menjelma menjadi doa seorang hamba yang berusaha merajut harapan di ujung pandemi, menemukan wajah Tuhan dalam penderitaan sesama, dan merindukan kembali keceriaan anak-anak didiknya.
Kesimpulan: Menemukan Makna dalam Kesunyian yang Berbuah
Puncak dari buku "Memandang Dia yang Tertikam" adalah penegasan bahwa misi hidup sebagai wujud spiritualitas sejati ditemukan dalam kemampuan untuk tetap memandang Tuhan di tengah segala situasi. Lodevika Endang Sulastri berhasil membuktikan bahwa hidup selibat adalah sebuah perjalanan yang indah, jujur, dan sportif dalam menghadapi kegundahan hati maupun tantangan sosial.
Spiritualitas yang ditawarkan dalam buku ini adalah spiritualitas kontemplatif yang membumi. Buku ini menjadi oase bagi siapa saja—baik religius maupun awam—yang rindu untuk sejenak berhenti dari kebisingan dunia, menarik diri ke dalam "ruang sunyi" batin, dan menemukan kembali cahaya pengharapan pada Dia yang tertikam namun bangkit mulia. Sebuah catatan perjalanan iman yang disiplin namun penuh kehangatan cinta kasih.