• Cerita Karakter Anak Kesatria Kristus

    Murid Kristus

    Cerita Karakter Anak Kesatria Kristus

    Penanaman nilai-nilai karakter Kristiani, aktualisasi kasih harian, dan stimulasi empati anak.

    Inspirasi bagi anak agar berani mengimplementasikan iman dan teladan kasih melalui perbuatan nyata sehari-hari.

    Read More
  • Cerpen dan Puisi Anak

    Literasi

    Cerpen dan Puisi Anak

    Penanaman moralitas dini, stimulasi imajinasi puitis, dan pengolahan empati anak.

    Merajut enam cerpen dan 36 puisi sebagai instrumen spiritual dan literasi guna menumbuhkan karakter luhur serta kepekaan estetika anak.

    Read More
  • Menyukat Kesemenjanaan Kita

    Takaran

    Menyukat Kesemenjanaan Kita

    Pandemi adalah cermin retak yang memaksa kita mengukur ulang standar kemanusiaan.

    Menguliti ketangguhan moral, kreativitas, dan keruntuhan ego manusia saat dihajar krisis global.

    Read More
  • Sejarah Seabad Gereja Kotabaru

    Kota Baru

    Sejarah Seabad Gereja Kotabaru

    Eksplorasi eklesiologi paroki jaringan, inkulturasi liturgi lokal, dan perjumpaan inklusif lintas iman.

    Membedah satu abad peziarahan iman Gereja Kotabaru dalam mentransformasi institusi paroki menjadi oase kota yang cair dan "rumah sakit lapangan" bagi sesama.

    Read More

Keranjang Rasaku

Keranjang Rasaku: Kumpulan Puisi

Spesifikasi

Kode: 120013
Judul: Keranjang Rasaku: Kumpulan Puisi
Penulis: Sulistyaningsih
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-602-53561-4-8
Tebal: 68 (viii+60) halaman
Ukuran: 14.5x21 cm
Harga: Rp40.000

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!

Deskripsi

Keranjang Rasaku – Dialektika Kegamangan Jiwa, Ketangguhan Perempuan, dan Jeda Katarsis sang Pendidik

Buku "Keranjang Rasaku: Kumpulan Puisi" merupakan sebuah antologi puisi solo setebal 68 halaman yang memotret pasang surut emosi manusia dalam menghadapi realitas kehidupan harian. Ditulis oleh Sulistyaningsih, seorang penyair sekaligus pendidik yang peka terhadap getaran nurani, buku ini bertindak sebagai wadah atau "keranjang" imajiner yang menampung 52 judul puisi pilihan. Lewat untaian bait yang jujur dan bersahaja, penulis secara sportif menuangkan liku-liku perasaan batinnya—mulai dari momen bimbang, takut, sedih, ceria, hingga duka yang mendalam—menjadikannya sebuah karya sastra yang membumi, mengalir tanpa beban, dan sangat dekat dengan empati harian pembaca.

Mosaik Fluktuasi Rasa, Etos Pengabdian, dan Keteguhan Hati Perempuan:

1. Eksplorasi Paradoks Emosi dan Pencerahan Siklus Waktu:
Poros estetis utama buku ini digerakkan oleh kepiawaian Sulistyaningsih dalam membedah kerapuhan sekaligus kekuatan jiwa manusia menghadapi transisi harian. Melalui formula bahasa yang sangat ringan, pembaca diajak menyelami rasa batin lewat puisi-puisi reflektif seperti "Gamang", "Kemarau Hati", "Jenuh", hingga "Hening dalam Bening". Ketegangan emosional tersebut diimbangi secara teduh oleh kesadaran teologis yang bijak mengenai kepasrahan pada waktu, yang terekam manis dalam puisi "Senja Pasti Tiba", "Ada Waktunya", dan "Ketika Waktu Tinggal Sepenggal". Penulis menawarkan sebuah pencerahan harian yang sejuk: bahwa setiap kesedihan dan kegamangan hidup hanyalah fase sementara yang akan bermuara pada keikhlasan seiring berjalannya waktu.

2. Radar Dedikasi Guru, Sketsa Sosial, dan Nilai Pedagogi Kasih:
Sebagai refleksi dari latar belakang dunianya, Sulistyaningsih secara lincah membawa atmosfer ruang kelas dan kepekaan sosial ke dalam bait-bait sastra secara apa adanya tanpa kepalsuan. Penghormatan terhadap profesi dan ketulusan mengajar terpancar kuat lewat puisi bertajuk "Kekuatan Ibu Guru" dan "Pengabdian". Langkah edukasi moralitas ini diperluas oleh radar pengamatan harian penyair terhadap anak-anak marginal lewat puisi penuh empati seperti "Sebening Jiwa Anak" dan "Puisi Pengamen Cilik", serta petuah tulus seorang ibu bagi generasi penerus dalam sajak "Teruslah Berjalan, Nak". Kehadiran tema-tema ini membuktikan bahwa sastra dapat bertindak sebagai media edukasi karakter yang membumi.

3. Ketangguhan Sosok Ibu, Simbolisme Alam, dan Kepasrahan Teologis:
Warna emosional antologi ini ditutup secara teduh oleh untaian kepasrahan teologis dan bentuk apresiasi mendalam terhadap figur perempuan. Sulistyaningsih menyentuh hulu hati pembaca lewat puisi bertema domestik yang hangat seperti "Indahlah Senjamu Ibu" serta puisi kolektif "Untuk Semua Ibu yang Tegar Bagi Semua Anak yang Benar". Metafora alam harian yang bersahaja juga hadir memperkaya imajinasi lewat puisi "Elegi Sebatang Pohon Pisang", "Pesan Alam", dan "Batu Karang". Rangkaian puisi penutup seperti "Berserah", "Kuasamu", dan "Ikhlas" mempertegas fungsi menulis bagi sang penulis sebagai metode katarsis terbaik untuk memulihkan energi jiwa dari kepenatan aktivitas harian.

Kesimpulan: Untaian Kata yang Ringan, Mengalir Lancar, dan Sarat Pesan Moral
Pada akhirnya, antologi "Keranjang Rasaku" berhasil membuktikan bahwa puisi yang bermutu tinggi tidak harus selalu menggunakan kosakata langit yang rumit dan berat. Kekuatan utama dari karya solo Sulistyaningsih ini terletak pada kejujuran tutur bahasanya yang sangat ringan, mengalir lancar, dan mudah dicerna oleh siapa saja, tetapi tetap memiliki kedalaman filosofi moral dan spiritual yang membumi.

Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan, memberikan kehangatan kontemplatif sekaligus ruang jeda yang menenangkan di kala senja tiba. Sangat direkomendasikan bagi sesama rekan pengajar, mahasiswa, pelajar yang sedang mengasah potensi literasi fiksi, serta seluruh pecinta puisi Nusantara yang merindukan bait-bait bersahaja untuk menemani waktu santai di sore hari bersama secangkir teh hangat.

Daftar Isi

  • Kata Pengantar .... v
  • Halaman Persembahan .... vi
  • Daftar Isi .... vii
  • Selamat Pagi Kotaku .... 1
  • Di Lepas Pantai Ada Pejuang .... 2
  • Pilihan Jiwa .... 3
  • Izinkan Aku Bertanya .... 4
  • Taman Jiwaku .... 5
  • Kemarau Hati .... 6
  • Kepergianmu .... 7
  • Jenuh .... 9
  • Tak Apalah Kawan .... 10
  • Bisakah? .... 12
  • Ada Waktunya .... 13
  • Harimu Ada di Seluruh Waktu .... 14
  • Hening dalam Bening .... 16
  • Darimu Aku Belajar .... 17
  • Senja Pasti Tiba .... 18
  • Menunggu Waktu .... 19
  • Jangan Berhenti .... 20
  • Kenapa .... 21
  • Bukan Ambisi .... 22
  • Indahlah Senjamu Ibu .... 23
  • Sendiri .... 24
  • Pesan Alam .... 25
  • Dia Perempuan .... 26
  • Pasti .... 27
  • Rindu .... 28
  • Mencari Jejak Masa Lalu .... 29
  • Takaran .... 30
  • Kekuatan Ibu Guru .... 31
  • Senja Kala .... 33
  • Gamang .... 34
  • Pengabdian .... 35
  • Hening Malam .... 36
  • Sebening Jiwa Anak .... 37
  • Tiada Sekat .... 38
  • Elegi Sebatang Pohon Pisang .... 39
  • Optimis .... 40
  • Puisi Pengamen Cilik .... 42
  • Ikhlas .... 44
  • Berserah .... 45
  • Kuasamu .... 46
  • Rasa .... 47
  • Teruslah Berjalan, Nak .... 48
  • Untuk Semua Ibu yang Tegar Bagi Semua Anak yang Benar .... 49
  • Pertolongan .... 51
  • Bersyukurlah .... 52
  • Kebebasan .... 53
  • Batu Karang .... 54
  • Harap .... 55
  • Biarkan Aku Merasa .... 56
  • Cambuk Diri .... 57
  • Ketika Waktu Tinggal Sepenggal .... 58
  • Ujian akhir menunggu .... 59
  • Tentang Penulis .... 60

Jika Anda tertarik untuk menerbitkan buku serupa, silakan kunjungi ketentuan Penerbitan Buku!