Deskripsi
“Ketika bumi berguncang, yang tersisa bukan hanya reruntuhan—tetapi juga doa, air mata, dan harapan manusia.”
Menjemput Senja di Palu Donggala adalah kumpulan puisi yang lahir dari duka, kepedihan, dan keteguhan hati menghadapi tragedi kemanusiaan. Melalui bait-bait yang jujur dan menggugah, buku ini merekam luka kolektif bangsa atas bencana gempa dan tsunami Palu-Donggala, sekaligus menghadirkan harapan bahwa manusia selalu memiliki kekuatan untuk bangkit dari kehancuran.
Ditulis oleh 13 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis, buku ini menghadirkan 60 puisi yang memotret berbagai sisi kehidupan setelah bencana: kehilangan keluarga, tangisan ibu pertiwi, ketakutan, kesunyian, doa, solidaritas, hingga harapan untuk kembali menata hidup. Setiap puisi terasa seperti kesaksian batin yang lahir dari empati mendalam terhadap tragedi yang mengguncang Indonesia.
Melalui puisi-puisi seperti Menjemput Senja di Palu Donggala, Tangis Donggala, Indonesia Berduka, Kota Mati, Tragedi Penghujung September, hingga Tangisan Palu dan Donggala, pembaca diajak merasakan bagaimana bencana tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mengguncang hati manusia. Namun di balik duka itu, buku ini juga menghadirkan semangat kemanusiaan, kepedulian, dan kekuatan untuk tetap bertahan.
Tidak hanya berbicara tentang bencana, buku ini juga memuat refleksi tentang kehidupan, cinta, pengabdian, kerinduan, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Bahasa yang sederhana namun penuh emosi membuat setiap puisi terasa dekat dan nyata, seolah pembaca ikut hadir di tengah kepanikan, kehilangan, dan harapan yang tumbuh perlahan setelah tragedi.
Menjemput Senja di Palu Donggala bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan catatan kemanusiaan tentang bagaimana manusia menghadapi luka dan belajar bangkit bersama. Buku ini cocok bagi pecinta sastra, penikmat puisi reflektif, pendidik, maupun siapa saja yang ingin memahami bahwa di balik setiap bencana selalu ada kisah tentang cinta, kepedulian, dan kekuatan hati manusia.
Karena pada akhirnya, bahkan di senja paling kelam sekalipun, manusia tetap berusaha menjemput cahaya harapan.