Deskripsi
“Ada kenangan yang tak pernah benar-benar pergi—ia tinggal diam di antara aroma kopi dan sunyi yang tak selesai.”
Kutemukan Bayangmu dalam Secangkir Kopi adalah kumpulan puisi yang merangkum rasa-rasa paling manusiawi: cinta, rindu, kehilangan, harapan, kesepian, dan pencarian makna hidup. Melalui bait-bait yang hangat sekaligus menggugah, buku ini mengajak pembaca menyelami ruang batin tempat kenangan, doa, dan harapan saling berkelindan seperti aroma kopi yang perlahan menguar di pagi hari.
Lahir dari kreativitas para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis, buku ini menghadirkan 55 puisi karya 11 penulis dengan tema yang beragam namun saling terhubung oleh kedalaman rasa. Ada puisi tentang cinta yang tertinggal, perjuangan hidup, dunia pendidikan, kegelisahan sosial, spiritualitas, hingga harapan sederhana yang membuat manusia tetap bertahan menghadapi waktu.
Melalui puisi-puisi seperti Kutemukan Bayangmu dalam Secangkir Kopi, Dialog Senja, Tentang Hujan, Negeri Seribu Kontroversi, Cermin Pendidikan Hari Ini, hingga Bertasbih dalam Kesepian, pembaca diajak menikmati perjalanan emosi yang intim dan reflektif. Setiap puisi terasa seperti percakapan lirih dengan diri sendiri—kadang hangat, kadang getir, tetapi selalu meninggalkan makna.
Keistimewaan buku ini terletak pada keberanian para penulis menghadirkan pengalaman hidup dalam bahasa yang sederhana namun penuh daya sentuh. Ada romantisme, kritik sosial, nilai kemanusiaan, hingga spiritualitas yang diramu secara puitis tanpa kehilangan kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. Karena ditulis oleh para pendidik, puisi-puisi di dalamnya juga memancarkan kepekaan, empati, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Kutemukan Bayangmu dalam Secangkir Kopi bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan ruang untuk mengenang, merenung, dan memahami bahwa setiap manusia pernah memiliki “bayangan” yang tinggal dalam ingatan mereka. Buku ini cocok bagi pecinta sastra, penikmat puisi reflektif, penikmat kopi dan senja, maupun siapa saja yang ingin menemukan kembali serpihan perasaan yang pernah hilang.
Sebab terkadang, dalam secangkir kopi yang sederhana, manusia dapat menemukan kembali cinta, luka, dan dirinya sendiri.