Deskripsi
“Ada luka yang tak sanggup diucapkan, lalu berubah menjadi puisi.”
Senja di Bukit Cinta adalah kumpulan suara hati—tentang cinta, kehilangan, harapan, rindu, perjuangan, dan kehidupan yang terus berjalan meski berkali-kali menggoreskan luka. Dalam setiap baitnya, pembaca akan menemukan perasaan-perasaan yang begitu dekat, begitu manusiawi, dan mungkin pernah diam-diam dialami sendiri.
Lahir dari kreativitas para guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis, buku ini menghadirkan 56 puisi dari sebelas penulis dengan warna emosi yang berbeda-beda. Ada puisi tentang cinta yang dipendam, kerinduan yang tak tersampaikan, keluarga, pengabdian, bencana, hingga pergulatan batin dalam menjalani hidup. Semua dirangkai dengan bahasa yang sederhana, jujur, tetapi mampu menyentuh sisi terdalam hati pembaca.
Melalui puisi-puisi seperti Senja di Bukit Cinta, Air Mata Negeriku, Yang Hilang Ditelan Bumi, Rindu dan Senja, hingga Pahlawan Hati, buku ini tidak hanya menawarkan keindahan kata, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang makna kehidupan. Kehadiran geguritan berbahasa Jawa karya Nurmiyasih semakin memperkaya nuansa budaya dan rasa dalam buku ini, menjadikannya lebih hangat, akrab, dan membumi.
Setiap halaman menghadirkan suasana yang berbeda—kadang lembut dan romantis, kadang pilu dan mengguncang, namun tetap menyisakan harapan. Pembaca akan diajak menyusuri perjalanan emosi para penulis yang menumpahkan kegelisahan, cinta, dan impian mereka melalui untaian puisi yang mengalir apa adanya.
Senja di Bukit Cinta bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan ruang perenungan tentang kehidupan dan perasaan manusia. Cocok bagi pecinta sastra, penikmat puisi, maupun siapa saja yang ingin menemukan ketenangan, kehangatan, dan secercah harapan di balik rangkaian kata-kata sederhana.
Karena terkadang, senja bukan tentang berakhirnya hari—melainkan tentang belajar menerima, mencintai, dan tetap melangkah meski hati pernah terluka.