Deskripsi
“Ada cinta yang tak pernah benar-benar pergi—ia hanya bersembunyi di antara waktu yang terus bergerak.”
Kutemukan Kau di Antara Jarum Jam yang Bergerak Mundur adalah kumpulan puisi yang lahir dari kegelisahan, kerinduan, cinta, kehilangan, dan pergulatan batin manusia modern. Setiap baitnya terasa intim, seolah berbicara langsung kepada pembaca tentang hal-hal yang pernah diam-diam dirasakan, tetapi sulit diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Buku ini merupakan karya kolaboratif 13 guru yang tergabung dalam Komunitas Guru Menulis. Melalui 59 puisi dengan tema yang beragam, para penulis menghadirkan refleksi tentang cinta yang tak sempurna, kerinduan masa lalu, pencarian makna hidup, pengabdian, spiritualitas, hingga kegelisahan sosial yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari.
Puisi-puisi seperti Kutemukan Kau di Antara Jarum Jam yang Bergerak Mundur, Surat Cinta dari Tuhan, Hari Damai, Keranda Marginal, Palu Pilu, hingga Kiamat memperlihatkan bagaimana kata-kata sederhana dapat menjelma menjadi ruang perenungan yang mendalam. Ada kelembutan, kemarahan, harapan, dan luka yang berpadu menjadi satu kesatuan emosi yang kuat dan manusiawi.
Keistimewaan buku ini terletak pada keberanian para penulis menghadirkan suara hati yang jujur. Mereka tidak hanya menulis tentang cinta romantis, tetapi juga tentang perjuangan hidup, relasi keluarga, profesi guru, ketidakadilan sosial, hingga dialog spiritual manusia dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Karena itu, setiap puisi terasa hidup dan dekat dengan realitas pembaca.
Dengan gaya bahasa yang puitis namun tetap mudah dinikmati, buku ini cocok bagi pecinta sastra, penikmat puisi reflektif, maupun siapa saja yang tengah mencari teman dalam kesunyian dan pencarian makna hidup. Di dalamnya, pembaca akan menemukan bahwa waktu mungkin terus bergerak, tetapi kenangan, cinta, dan harapan selalu memiliki cara untuk kembali mengetuk hati.
Kutemukan Kau di Antara Jarum Jam yang Bergerak Mundur bukan sekadar kumpulan puisi—melainkan perjalanan emosi yang mengajak pembaca menelusuri kembali makna “aku”, “kau”, dan “kita” di tengah waktu yang tak pernah benar-benar diam.