Deskripsi
Tiyang sepuhipun Ratri tansah paring pitutur, supados Ratri tansah njagi asmanipun tiyang sepuh ing papan enggal sasampunipun dipunboyong dhateng Bantul, papan domisili ing samangke, kanthi tansah sregep nyambut damel, tinarbuka, ngormati sesami, lan ngladosi keluwarga kanthi sae. Pengajeng-ajeng gesang tentrem ing bebrayan, kanyata mas Sutrisno garwanipun nyimpen sejarahing gesang ingkang mboten ngremenaken, lan kapireng dening Ratri. Getun lan keduwung bilih Mas Sutrisno sampun kagungan putra damel peperangan ing batinipun. Antawis janji ingkang sampun kawedhar ing ngarsa Dalem Gusti, ing ngajeng altar suci, kaliyan cariyos gesang Mas Sutrisno ingkang mboten nate sacara blaka suta pun pireng piyambak. Peperangan ing manah, sagedpun endhakaken sinaosa saestu awrat kanthi pikiran tansah kapusataken ing pakaryan.
Sekar Ratri – Potret Ketangguhan Wanita Jawa, Dinamika Batin, dan Prasasti Literasi dari Bumi Bantul
Novel "Sekar Ratri: Novel Basa Jawa" merupakan sebuah karya sastra fiksi setebal 176 halaman yang menyajikan narasi memikat mengenai emansipasi, ketangguhan, dan keluhuran budi seorang wanita Jawa modern. Ditulis oleh mendiang Rita Nugroho Dwi Krisnawati, seorang pendidik berdedikasi tinggi yang kini telah berpulang, novel ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan bertindak sebagai warisan literasi berharga dalam khazanah bahasa daerah. Mengambil latar geografi yang lekat dengan keseharian penulis—mulai dari tanah kelahirannya di Gunungkidul hingga tempatnya mengabdi di Bantul—buku ini memotret secara sportif bagaimana nilai-nilai tradisional dan kemandirian ekonomi dapat berjalan beriringan di tengah gempuran badai kehidupan.
Mosaik Konflik Batin, Kemandirian Ekonomi, dan Saksi Sejarah Lindhu Bantul:
1. Dilema Janji Suci dan Rahasia Kelam Masa Lalu:
Kisah ini berpusat pada tokoh Christina Ratriwati (Ratri), seorang lulusan SMEA asal Wonosari yang memilih membangun brayat (rumah tangga) bersama Mas Sutrisno di Bantul. Berbeda dengan pemuda seangkatannya yang memilih merantau ke kota besar, Ratri memilih mandiri di tanah sendiri. Namun, pengajeng-ajeng (harapan) hidup tentrem terusik ketika ia mendapati rahasia kelam suaminya yang telah memiliki putra dari masa lalu. Peperangan batin yang hebat terjadi antara kesetiaan pada janji pernikahan di ngarsa Dalem Gusti (hadapan Altar Suci) dengan rasa keduwung (kecewa). Konflik psikologis ini digarap penulis dengan bahasa pencerahan yang sangat halus, menunjukkan kematangan karakter Ratri yang memilih mengalihkan energinya pada karya nyata.
2. Kemandirian Ekonomi, Pemberdayaan Perempuan, dan Jiwa Motivator:
Ratri digambarkan sebagai sosok wanita yang ulet, tekun, dan membumi. Usaha tata busananya berkembang pesat menjadi produksi batik tulis dan rajut yang sukses merangkul ibu-ibu rumahtangga serta pemudi di sakiwa tengenipun (lingkungan sekitar). Keberhasilan ini membuatnya dipercaya oleh Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan sebagai motivator bagi wirausaha lokal. Melalui bab “Tekun, Teken, Tekan”, penulis membagikan pencerahan harian yang sejuk bahwa keberhasilan sejati adalah ketika keberadaan kita mampu menjadi berkah dan membuka lapangan kerja bagi sesama, termasuk rencana mulianya memperluas usaha ke daerah asalnya, Gunungkidul.
3. Tragedi Lindhu 27 Mei 2006 dan Seni Menerima Takdir (Pepeteng dadi Pepadhang):
Puncak dramatis novel ini terekam dalam bab “Horeging Bumi, Tangising Ati” yang memotret bencana gempa bumi dahsyat 27 Mei 2006 di Bantul. Dalam sekejap, usaha Ratri hancur dan suaminya berpulang, menyisakan duka yang nggegirisi (mengerikan). Tak berhenti di situ, ia harus ikhlas ketika putri tunggalnya memilih jalan hidup membiara sebagai biarawati. Di sinilah falsafah Jawa “Mikul Dhuwur Mendhem Jero” dan keteguhan iman berpadu. Ratri bangkit dari puing kehancuran, merajut kembali usahanya, dan dengan keluhuran hatinya memilih Rizal—anak dari masa lalu suaminya—sebagai penerus keluwarga. Penulis berhasil mengubah pepeteng (kegelapan) sejarah menjadi pepadhang (cahaya) masa depan.
Kesimpulan: Warisan Abadi Sang Guru untuk Sastra Jawa
Pada akhirnya, "Sekar Ratri" berhasil membuktikan bahwa novel berbahasa Jawa mampu tampil dengan wajah yang modern, dinamis, tetapi tetap sarat akan nilai budi pekerti. Pilihan diksi ragam krama yang digunakan mengalir lancar, ringan, namun memiliki kedalaman rasa yang luar biasa tanpa kehilangan substansi sastranya.
Meskipun Ibu Rita Nugroho Dwi Krisnawati kini telah almarhum, karya ini menjadi prasasti abadi yang mengabarkan wangi perjuangannya. Buku ini menjadi pilihan bacaan yang sangat menyegarkan dan hangat di kala senja. Sangat direkomendasikan bagi para guru, pelajar, pecinta budaya Jawa, serta siapa saja yang ingin meneladani karakter wanita yang ulet, tulus, dan bersahaja dalam menghadapi setiap pacoben (cobaan) hidup.